Rabu, 22 Jan 2014 08:31 WIB

Ini Langkah-langkah Penanggulangan HIV dan AIDS yang Dilakukan NU

- detikHealth
ilustrasi (Foto: Thinkstock) ilustrasi (Foto: Thinkstock)
Jakarta - The Global Fund, institusi keuangan internasional yang bertujuan untuk memerangi AIDS, Tuberculosis dan Malaria, mengucurkan dana sebesar Rp 1,34 triliun untuk penanggulangan HIV dan AIDS di Indonesia. Nahdatul Ulama (NU) sebagai salah satu penerima dana hibah dari The Global Fund pun mempunyai program-program khusus dalam penanggulangan HIV dan AIDS.

dr. Imam Rasjidi. SpOG selaku Ketua Lembaga Kesehatan NU mengatakan ada dua program besar yang telah dilakukan oleh NU. Program tersebut terdiri dari strukturisasi internal dan pengkaderan.

"Strukturisasi internal dilakukan dengan mengundang 33 kiai sepuh dari seluruh Indonesia yang bertujuan untuk merumuskan dasar hukum fiqih penanggulangan HIV dan AIDS. Sementara pengkaderan dilakukan untuk melatih kader NU menjadi spokeperson atau pembicara (tentang HIV dan AIDS -RED)," ujarnya pada acara Konferensi Pers Pertemuan Evaluasi Nasional Program Penanggulangan HIV dan Aids di Indonesia yang bertempat di Hotel Grand Cempaka, Cempaka Putih, Jakarta Pusat, dan ditulis pada Rabu (22/1/2014).

Perumusan hukum fiqih tersebut akhirnya dirangkum dalam sebuah buku yang berjudul Panduan Penanggulangan HIV dan AIDS Perspektif Nahdlatul Ulama. Buku yang terdiri dari tiga bagian ini merangkum seluruh hasil perumusan tersebut.

Bagian pertama dari buku ini membahas tentang pengertian HIV dan AIDS menurut ilmu kesehatan.Bagian kedua berisikan tentangan pandangan Islam terhadap HIV dan AIDS. Sementara bagian ketiga diisi tentang kedudukan NU dalam penanggulangan HIV dan AIDS.

Dengan adanya buku ini, dr. Imam berharap sudah tidak ada lagi perdebatan oleh para warga NU tentang penanggulangan HIV dan AIDS. Ia juga berharap agar warga NU mampu menerima dengan baik cara-cara NU dalam melawan HIV dan AIDS.

Dalam program pengkaderan, dokter berkacamata ini juga mengatakan bahwa sudah ada kurang lebih 800 orang kader NU yang siap menjadi pembicara dalam acara talkshow atau seminar tentang HIV dan AIDS. Selain itu, para kader yang juga aktif sebagai khatib dibekali dengan buku kumpulan khutbah Jumat tentang jihad melawan HIV dan AIDS.

"Adanya program-program NU ini sangat membantu sosialisasi yang dilakukan PKBI, khususnya di daerah-daerah kantung NU seperti Jawa Barat dan sekitarnya," ujar Inang Winarso, Direktur PKBI pada kesempatan yang sama.

Dikatakannya bahwa PKBI yang turun ke lapangan dalam penanggulangan HIV dan AIDS terbantu karena para kader dan warga NU mau secara aktif terlibat dalam penanggulangan HIV dan AIDS. Ia mencontohkan beberapa kegiatan PKBI yang dilakukan di daerah Jawa Barat mendapat reaksi positif dari masyarakat.

"Di Tasik kami mengadakan tes HIV gratis. Kegiatan ini disambut baik oleh warga yang datang beramai-ramai untuk ikut tes VCT. Sementara itu di Sukabumi ada pengajian-pengajian yang ceramahnya diisi dengan anjuran memakai kondom," paparnya.

Evaluasi Program Penanggulangan HIV dan AIDS

Epidemi HIV yang meningkat dari tahun ke tahun memang harus segera ditanggulangi. Komisi Penanggulangan AIDS Nasional (KPAN) sebagai salah satu pelaksana pun merasa perlu melakukan evaluasi program. "Acara ini dilakukan sebagai bagian dari manajemen program penaggulangan HIV dan AIDS, dengan melakukan evaluasi upaya-upaya yang telah dilakukan oleh di Indonesia," ujar Sekretaris KPAN dr. Kemal N. Siregar pada kesempatan yang sama.

Acara yang rencananya diselenggarakan dari tanggal 20 Januari hingga 24 Januari 2014 ini digelar di Hotel Grand Cempaka, Cempaka Putih, Jakarta Pusat. Pertemuan ini akan melibatkan 400 orang perwakilan dari KPAN, Perkumpulan Keluarga Berencana Indonesia (PKBI), Pengurus Besar Nahdatul Ulama (PBNU), Kementerian Kesehatan Republik Indonesia (Kemenkes) serta perwakilan dari komunitas terdampak HIV dan AIDS.

"Pertemuan ini diselanggarakan secara rutin. Untuk tingkat ]nasional diadakan selama 6 bulan sekali dan di tingkat provinsi dilakukan 3 bulan sekali. Untuk tingkat kabupaten/kota dilakukan 1 bulan sekali," jelasnya lagi.

Dalam acara ini juga dibahas tentang pemanfaatan dana hibah yang diterima oleh KPAN, PKBI, PBNU dan Kemenkes yang berasal dari organisasi The Global Fund. Besaran dana tersebut dipaparkan dalam rilis cetak yang dikeluarkan oleh KPAN. Untuk periode Juli 2012-Juni 2015 total dana yang dikucurkan The Global Fund mencapai Rp 1,34 triliun. Dana tersebut disalurkan kepada Kemenkes (Rp 626 miliar), KPAN (Rp 359 miliar), PKBI (Rp 191 miliar) dan NU (Rp 161 miliar).

Didirikan pada tahun 2002, The Global Fund adalah institusi keuangan internasional yang bertujuan untuk memerangi AIDS, Tuberculosis dan Malaria. Organisasi ini mengumpulkan dan mengelola sumber-sumber bantuan yang berasal dari donatur di seluruh dunia, dan nantinya didistribusikan kepada negara-negara yang membuhtuhkan. Indonesia termasuk 10 negara penerima bantuan terbesar.



(vit/vit)
News Feed