Global Appeal 2014: Stop Stigma dan Diskriminasi Terhadap Pasien Kusta!

Global Appeal 2014: Stop Stigma dan Diskriminasi Terhadap Pasien Kusta!

Ajeng Anastasia Kinanti - detikHealth
Senin, 27 Jan 2014 15:15 WIB
Global Appeal 2014: Stop Stigma dan Diskriminasi Terhadap Pasien Kusta!
Suasana Pembacaan 'Global Appeal 2014' di Grand Sahid Jaya Hotel (Foto: Ajeng/detikHealth)
Jakarta - Sebagai salah satu penyakit yang banyak dialami oleh penduduk dunia, termasuk Indonesia, sampai saat ini tingkat stigma dan diskriminasinya masih tinggi. Hal ini tentu akan membatasi kesempatan mereka dalam pendidikan, pekerjaan, dan bahkan pernikahan.

"Ini merupakan kegiatan yang dilakukan kesembilan kali, di mana kali pertama dilakukan pada tahun 2006 di India. Kegiatan ini diadakan untuk menghentikan stigma dan diskriminasi terhadap pasien kusta, dan mereka yang pernah mengalaminya," ujar Wakil Ketua Bidang Eksternal Komnas HAM, Dr Dianto Bachriadi, dalam acara Global Appeal 2014 yang diselenggarakan di Grand Sahid Jaya Hotel, Jl Jend Sudirman, Jakarta, Senin (27/1/2014).

Menurut Dianto, acara yang diselenggarakan oleh The Nippon Foundation bersama Komisi Nasional Hak Asasi Manusia (Komnas HAM) Indonesia ini lahir karena adanya fakta yang memprihatinkan. Di mana sampai saat ini, mereemeprihatinkan, yaitu masih adanya stigma dan diskriminasi yang dilakukan oleh masyarakat dan negara.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Beberapa dari mereka tak boleh naik kendaraan umum atau ditolak oleh perusahaan, sehingga melamar pekerjaan atau sekolah pun tak bisa. Bahkan ada pula yang tak diizinkan membangun rumah," papar Dianto.

Stigma dan diskriminasi ini menurut Dianto muncul karena adanya kesalahan persepsi. Beberapa kelompok masyarakat masih percaya bahwa kusta merupakan penyakit kutukan Tuhan dan sangat menular. Padahal faktanya kusta disebabkan oleh bakteri, bukan dari mitos tersebut.

Dibuka dan diresmikan oleh Menko Kesra RI, HR Agung Laksono, ia juga menyampaikan keprihatinannya terhadap masih adanya diskriminasi terhadap penyakit yang sebetulnya sudah bisa disembuhkan ini.

"Kusta sampai saat ini masih dicemaskan oleh sebagian besar masyarakat, bahkan petugas medis itu sendiri. Hal ini muncul karena kurangnya pengetahuan dan pemahaman. Permasalahan kusta sangat kompleks, bukan hanya dari aspek medis, tapi juga psikososial sebagai dampak dari penyakit tersebut," terang Agung.

Didukung oleh perwakilan-perwakilan Lembaga Nasional HAM dari 39 negara, seperti Filipina, Thailand, India, dan Jepang, diharapkan Global Appeal 2014 atau Seruan Global 2014 ini dapat membantu memacu peningkatan kesadaran untuk menghapuskan diskriminasi terhadap mereka yang pernah mengalami kusta di berbagai belahan dunia.

(ajg/)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini
Hide Ads