Tak hanya itu, penyakit ini menjadi penyebab kecacatan nomor satu di seluruh dunia. Angka kecacatan permanen akibat stroke mencapai 30 persen pada pengamatan pertama setelah serangan stroke.
Permasalahan dalam perawatan stroke di rumah sakit sangat kompleks. Keterlambatan pasien datang ke rumah sakit, keterlambatan penanganan di Instalasi Gawat Darurat (IGD), dan komplikasi selama perawatan merupakan permasalahan yang umum dijumpai saat ini.
"Pelayanan stroke yang terorganisasi dalam unit stroke akan menurunkan angka kematian, angka kecacatan dan memperbaiki status fungsional pasien stroke," ungka Rizaldy Taslim Pinzon pada ujian terbuka program doktor Fakultas Kedokteran, Universitas Gadjah Mada (UGM), Yogyakarta, Rabu (29/1/2014).
Menurut dia, clinical pathway merupakan suatu pendekatan multidisiplin yang berbasis waktu, dan digunakan untuk membantu pasien-pasien tertentu mencapai luaran positif yang diharapkan. Clinical pathway adalah salah satu perangkat penunjang pelayanan klinis stroke yang lebih terpadu, terorganisasi, dan komprehensif.
"Clinical pathway juga mengimplementasikan evidence based medicine dalam perawatan pasien. Biasanya ada table waktu yang berisi urut-urutan tindakan klinis pada pasien yang menjalankan perawatan di rumah sakit," ungkap Rizaldy saat mempertahankan disertasinya yang berjudul 'Evaluasi Penerapan Clinical Pathway untuk Perbaikan Proses Dokumentasi, Indikator proses, Luaran Serta Analisis varian pada Kasus Stroke Iskemik Akut'.
Rizaldy sendiri melakukan penelitian mengenai stroke pada 242 pasien stroke iskemik serangan pertama yang masuk ke RS Bethesda Yogyakarta dengan onset kurang dari 24 jam. Subyek terdiri dari 123 pasien dari kelompok yang tidak menjalani clinical pathway dan 119 pasien yang menjalani clinical pathway.
Menurutnya hasil penelitian yang dilakukan menunjukkan pada kelompok yang terpapar clinical pathway terdapat perbaikan proses pelayanan yang signifikan dibandingkan pada kelompok yang tidak terpapar clinical pathway. Perbaikan proses teramati baik untuk pelayanan di IGD, pelayanan di bangsal, dan pada saat pasien keluar dari RS.
"Proses pelayanan di IGD didapatkan perbaikan dalam hal dokumentasi esesmen menelan, pemeriksaan laboratorium panel stroke yang lengkap, dan oksigenasi rutin," ungkap dokter RS Bethesda Yogyakarta itu.
Dari hasil penelitian yang diperoleh tersebut diharapkan penerapan clinical pathway stoke di RS Bethesda bisa terus dilanjutkan. Pemberlakuannya juga harus ditunjang dengan pencatatan dan evaluasi yang berkala. Selain itu implementasi Jaminan Kesehatan Nasional seharusnya menjadi tonggak untuk pemberlakuan clinical pathway yang lebih luas
(bgs/vit)











































