Kamis, 30 Jan 2014 12:52 WIB

detikHealth Reader's Choice 2013

Kumis dan Jenggot, Kapan Harus Dicukur Agar Tak Jadi Penyakit?

- detikHealth
Ilustrasi (dok: Thinkstock)
Jakarta - Sebagian laki-laki suka memelihara kumis dan jenggot, salah satu alasannya untuk memberi kesan 'gagah' pada penampilannya. Ada pula yang menyukai wajah licin, sehingga rutin 'membabat' rambut-rambut halus yang tumbuh di wajahnya.

Survei bertajuk Reader's Choice 2013 yang digelar detikHealth beberapa waktu lalu mengungkap kebiasaan cukur jenggot dan kumis para pembaca. Tentu saja, yang disurvei hanya pembaca yang berjenis kelamin laki-laki, sebab perempuan umumnya tidak berkumis dan berjenggot.

Berdasarkan hasil survei, 1.629 orang mengaku mencukur kumis dan jenggotnya secara rutin 1 minggu sekali. Frekuensi ini paling banyak dipilih oleh pembaca, diikuti dengan tidak pernah mencukurnya sama sekali di urutan berikutnya dengan jumlah 1.428 orang.

Selengkapnya, berikut ini hasil survei yang digelar antara 20 Desember 2013 hingga 15 Januari 2014, khususnya menyangkut frekuensi mencukur kumis dan jenggot.

- 1.629 mencukur kumis dan jenggot 1 minggu sekali
- 401 mencukur kumis dan jenggot 2 minggu sekali
- 104 mencukur kumis dan jenggot setelah lebih dari sebulan
- 257 mencukur kumis dan jenggot sebulan sekali
- 1.428 orang tidak pernah mencukur kumis dan jenggot.

Lantas bagaimana anjuran pakar kesehatan, seberapa sering kumis dan jenggot harus dibersihkan?

Pakar kesehatan dari Klinik Puan, dr Amaranila Lalita Drijono, SpKK mengatakan bahwa yang terpenting adalah menjaga kebersihan tubuh. Kumis dan jenggot tidak dicukur tidak masalah, yang penting bersih agar tidak menyebabkan gangguan kesehatan pada kulit.

"Daerah berambut harus lebih diperhatikan karena lebih sulit membersihkannya," kata dokter yang akrab disapa dr Nila ini, seperti ditulis pada Kamis (30/1/2014).

(up/vit)
dMentor
×
Investasi Saham VS Aset Kripto
Investasi Saham VS Aset Kripto Selengkapnya