Sebuah studi di Amerika menemukan bahwa pria dan wanita penderita obesitas yang diberitahu bahwa obesitas adalah penyakit lantas menjadi tidak tertarik untuk melakukan diet.
Ilmuwan dalam studi itu juga menemukan bahwa mendefinisikan obesitas sebagai kondisi medis membuat seolah obesitas adalah kondisi kahar yang tidak bisa dikontrol sepenuhnya. Klasifikasi itu juga membuat pasien obesitas lebih puas akan kondisi fisiknya dan memandang sebelah mata pada upaya pengurangan kalori.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Untuk menengarai perselisihan itu, peneliti dari Universitas Minnesota kemudian melakukan penelitian. Mereka meminta lebih dari 700 orang dewasa untuk membaca satu dari tiga artikel mengenai obesitas. Data tinggi dan berat badan para partisipan kemudian dicatat.
Artikel pertama berasal dari New York Times mengenai keputusan untuk mengklasifikasikan obesitas sebagai penyakit. Artikel kedua adalah tulisan yang berfokus pada kiat untuk mengendalikan berat badan. Sedangkan artikel ketiga mengenai argumen bahwa obesitas bukan penyakit dan menekankan pentingnya gaya hidup untuk kesehatan.
Hasilnya pria dan wanita dengan obesitas yang membaca artikel pertama menganggap bahwa diet untuk kesehatan tidak terlalu penting. Mereka kurang peduli pada berat badan, merasa lebih gembira dengan ukuran tubuh yang dimiliki, dan memilih sandwich yang berkalori lebih tinggi ketika dosodori beberapa jenis sandwich.
"Mengingat bahwa obesitas merupakan isu kesehatan masyarakat yang penting, perlu pemahaman yang lebih mengenai dampak dari pesan 'obesitas adalah penyakit' yang memiliki implikasi signifikan," ungkap peneliti sebagaimana tertulis dalam jurnal Psychological Science.
Tam Fry dari Forum Obesitas Nasional mengatakan bahwa obesitas memang penyakit. Namun, pesan pada masyarakat harus disampaikan dengan cara yang lebih sensitif. Kuncinya ialah, penderita obesitas memerlukan pemahaman, kelembutan, dan kasih sayang sebelum diinformasikan mengenai urgensi menurunkan berat badan.
"Obesitas adalah penyakit, dan sepeti penyakit lain, ia dapat membunuh," tegasnya sebagaimana dikutip dari Daily Mail, Minggu (2/2/2014).
(vit/vit)











































