Hal itu disampaikan Dr dr Laila Nuranna, SpOG(K) dari Perhimpunan Onkologi Ginekologi Indonesia. "Berdasar data kami diperkirakan satu dari 1.000 perempuan terkena kanker serviks. Jadi ini juga merupakan beban buat kita ya," kata dr Laila dalam temu media di kantor Kemenkes, Jl. HR Rasuna Said, Kuningan, Jakarta Selatan, Selasa (4/2/2014).
Dikatakan dr Laila, pencegahan kanker leher rahim di Indonesia bisa dilakukan dengan deteksi dini yang tak hanya melalui pap smear tapi juga dengan inspeksi visual dengan asam asetat (IVA). Cara ini bersifat non invasif, mudah serta murah karena pemeriksaannya bisa dilakukan di puskesmas dan oleh bidan, hasilnya langsung, sensitivitas dan spesifisitasnya pun cukup memadai.
"Supaya perempuan lebih familiar dengan IVA ini, kita bikin sedikit plesetannya yakni 'Ingat Vagina Anda'. IVA itu nantinya leher rahim dioles dengan asam cuka. Nah sekarang kita bikin DoIVA yaitu IVA dengan adanya dokumentasi," papar dr Laila.
Dokumentasi tersebut berupa foto yang diberikan kepada klien di mana foto tersebut diambil menggunakan alat yang tidak terlalu mahal berupa kamera dan printer.
dr Laila menambahkan, kanker serviks berbeda dengan jenis kanker lain karena diketahui penyebabnya yaitu Human Papiloma Virus (HPV). Karena diketahui sebabnya, maka seyoiyanya kanker serviks bisa dicegah yakni melalui vaksin HPV. Apalagi, dokter berkerudung ini menyebut HPV adalah virus ramah. Mengapa?
"Karena hampir semua dari kita bisa 'disapa' dengan virus ini. Cara penularan HPV tidak semuanya lewat aktivitas seksual tapi juga di luar aktivitas seksual misalnya di wc umum atau penularan ibu pada anaknya ketika melahirkan," jelas dr Laila.
Untuk faktor risiko kanker serviks, ada beberapa hal yang disebutkan dr Laila di antaranya menikah usia muda, mitra seksual multiple, merokok, memiliki riwayat infeksi menular seksual, dan defisiansi vit A, C, E. "Tapi nggak itu saja karena setiap perempuan berisiko, yang terutama mereka yang menikah karena yang belum menikah juga mungkin berisiko meski kasusnya jarang," ujarnya.
Perjalanan HPV pun dituturkan dr Laila memakan waktu cukup panjang yakni tiga sampai 17 tahun. Jadi dalam kurun waktu tersebut bisa dilakukan pengobatan. Pada tahap awal.n diakui dr Laila memang tak ada gejala, tapi ketika stadium lanjut ada gejala berupa perdarahan di vagina, keputihan berbau dan bercampur darah, serta nyeri pelvik.
"Jangan tunggu gejala parah, cek sedini mungkin dengan pap smear atau IVA," tandas dr Laila.
(rdn/vit)











































