Kisah dr Patrick Angelo, Dokternya Para Gelandangan

Kisah dr Patrick Angelo, Dokternya Para Gelandangan

- detikHealth
Selasa, 04 Feb 2014 15:56 WIB
Kisah dr Patrick Angelo, Dokternya Para Gelandangan
dr Patrick Angelo (Foto: Reuters)
Jakarta - dr Patrick Angelo adalah seorang dokter bedah mulut sukses di Chicago, Amerika Serikat. Pria berhati malaikat ini tidak hanya membantu menyembuhkan pasien dari penyakitnya, tetapi juga membantu para tunawisma.

Sukses dengan karir dan keluarga, 13 tahun lalu dr Angelo mulai turun ke jalanan untuk membantu langsung para tunawisma. Hampir setiap malam ia berkeliling kota untuk mengunjungi orang-orang kurang beruntung yang tak memiliki tempat tinggal.

Ia akan berkemas, memenuhi mobilnya dengan selimut, pakaian dan penghangat tangan. Tak lupa, ia juga memesan puluhan hamburger dan kopi untuk mengisi perut tunawisma di malam yang dingin. Ia mengunjungi tempat-tempat yang biasa digunakan para tunawisma untuk tidur. Rutenya seperti sebuah bus, zig-zag di sekitar underpass kota.

Meski sebagian tunawisma telah dibawa ke tempat penampungan untuk menghindari suhu 'brutal' yang mencapai -40 derajat Fahrenheit (-40 derajat Celsius), Dr Angelo tetap rutin mengunjungi 'pasien' setianya yang masih ada di jalanan.

Pria baik hati ini tahu di mana saja para tunawisma tinggal, meski tak bisa terlihat jelas dengan mata telanjang. Dia akan mengunjungi setiap sudut kota dan membagikan barang serta makanan yang ia bawa. Ia bekerja dengan sangat cepat tetapi dengan semangat dan ketulusan.

"Dia adalah penyelamat," ujar salah seorang tunawisma yang mendapat bantuan dr Angelo, seperti dilansir Reuters, Selasa (4/2/2014).

dr Angelo tidak pernah berpikir bahwa apa yang dia lakukan adalah hal yang sangat luar biasa. Dia hanya melihat orang-orang di jalanan sebagai anaknya sendiri. Jika hidup begitu sulit bagi para tunawisma dan tak ada seorang pun yang merawatnya, dr Angelo merasa tugasnya untuk membantu, bahkan dengan memberikan sepatunya sendiri.

Ia mengatakan semua biaya yang dikeluarkan berasal dari koceknya sendiri, dari hasil praktik medis dan keuntungan perusahaan kesehatannya, yang mencapai lebih dari US$30,000 (sekitar Rp 366 juta) setiap tahun.



(mer/vit)

Berita Terkait