“Program JKN yang dijalankan oleh BPJS Kesehatan sudah menjamin pemeriksaan IVA, papsmear, bahkan cryotherapy. Pemeriksaan dilakukan sekali dalam kurun waktu lima tahun," ungkap Direktur Pengandalian Penyakit Tidak Menular Kemenkes RI, Dr. Ekowati Rahajeng, SKM, M.Kes dalam keterangan tertulis yang diterima detikHealth dan ditulis pada Kamis (6/2/2014).
Ekowati menambahkan jaminan ini merupakan salah satu bentuk kepedulian pemerintah untuk mengendalikan penyakit kanker di Indonesia melalui pentingnya deteksi dini. Sebab, menurut Ekowati, menemukan penyakit lebih awal melalui deteksi dini selain memperbesar peluang kesembuhan penderitanya juga merupakan upaya yang lebih murah.
"Kita bisa bayangkan berapa biaya yang harus dikeluarkan untuk biaya pengobatan bila sudah menjadi kanker stadium lanjut”, katanya.
Berdasarkan data Subdit Kanker Direktorat Pengendalian Penyakit Tidak Menular (PPTM) Kemenkes RI per 20 Januari 2014, ada 36.761.000 perempuan di seluruh Indonesia umur 30-50 tahun. Sejak tahun 2007-2013 deteksi dini yang telah dilakukan sebanyak 644.951 orang (1,75%).
Deteksi dini tersebut berupa Inspeksi Visual dengan Asam Asetat 3-5% (IVA) positif berjumlah 28.850 orang (4,47%). Dari data tersebut, suspect kanker leher rahim sebanyak 840 orang (1,3 per 1000 penduduk) dan suspect benjolan (tumor) payudara 1.682 orang (2,6 per 1000 penduduk).
“Ini merupakan tantangan yang besar, mengingat target yang harus dicapai pada 2025 adalah 80% wanita. Kita tahu, untuk meyakinkan wanita untuk mau memeriksakan diri tentu tidak mudah”, tambah Ekowati.
Lebih lanjut, Ekowati menyatakan ada banyak hal yang bisa mempengaruhi rendahnya pencapaian deteksi dini kanker leher rahim dan payudara. Misalnya masih rendahnya kesadaran dan pengetahuan masyarakat mengenai penyakit kanker, ketakutan para wanita terhadap pemeriksaan, dan belum ada program deteksi dini massal yang terorganisasi secara maksimal.
"Juga sulitnya suami untuk mengizinkan istrinya menjalani pemeriksaan ditambah faktor sosial kultur di masyarakat seperti mitos atau kepercayaan terhadap pengobatan tradisional yang belum terbukti secara ilmiah," pungkas Ekowati.
(rdn/vit)











































