Untuk studi ini, peneliti dari UK mengamati data 5.134 orang dewasa yang dikumpulkan selama 15 tahun. Usia mereka tercatat antara 20-59 tahun di awal studi dan waktu reaksi masing-masing partisipan diukur dengan menggunakan sebuah program komputer.
Tiap kali partisipan melihat tanda 'o' di layar, mereka harus memencet sebuah tombol yang ditunjuk peneliti secepat mungkin dan masing-masing orang melakukan tes serupa sebanyak 50 kali.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Kendati begitu, peneliti mengaku belum dapat memastikan ada apa di balik korelasi ini. Salah satu dugaan mereka adalah lambatnya respons atau waktu reaksi yang bervariasi bisa jadi merupakan dampak dari penurunan sistem saraf pusat.
Dan bila kinerja sistem ini menurun, tak tertutup kemungkinan performa sistem tubuh lainnya juga akan mengalami hal serupa.
Perlu diingat bila sama halnya dengan kondisi genetik, seseorang tidak dapat mengubah waktu reaksinya menjadi lebih cepat atau tidak terlalu lambat. Hanya saja untuk memastikan performa kesehatan dan daya tahan tubuh Anda tetap prima, pastikan Anda rajin berolahraga, makan sehat dan hidup bahagia atau hindari stres.
(lll/up)











































