Berikut 5 jenis sakit kepala yang paling sering terjadi dan cara pengobatannya masing-masing, seperti dilansir Health.com, Mayoclinic dan Howstuffworks, Jumat (7/2/2014):
|
Ilustrasi (Foto: thinkstock)
|
1. Sakit kepala karena tegang (tension headaches)
|
Ilustrasi (Foto: thinkstock)
|
Para ahli percaya bahwa sakit kepala ini mungkin disebabkan oleh kontraksi otot-otot leher dan kulit kepala (termasuk dalam respons terhadap stres), dan mungkin menyebabkan perubahan dalam kimia otak.
Obat-obatan yang bisa membantu antara lain aspirin, ibuprofen, atau acetaminophen (Tylenol).
1. Sakit kepala karena tegang (tension headaches)
|
Ilustrasi (Foto: thinkstock)
|
Para ahli percaya bahwa sakit kepala ini mungkin disebabkan oleh kontraksi otot-otot leher dan kulit kepala (termasuk dalam respons terhadap stres), dan mungkin menyebabkan perubahan dalam kimia otak.
Obat-obatan yang bisa membantu antara lain aspirin, ibuprofen, atau acetaminophen (Tylenol).
2. Sakit kepala cluster
|
Ilustrasi (Foto: thinkstock)
|
Selama serangan, penderitanya sering merasa gelisah dan tidak bisa nyaman, tidak mungkin untuk berbaring. Penyebabnya belum diketahui pasti, tetapi para peneliti semakin dekat memahami sakit kepala cluster dan tahu bahwa hipotalamus (daerah otak yang mengontrol sistem saraf otonom dan mengatur hormon, tidur, libido, pernapasan dan proses otomatis tubuh lainnya), menjadi aktif ketika sakit kepala terjadi, tapi peneliti tidak tahu kenapa.
Ketika hipotalamus aktif selama serangan sakit kepala, merangsang jalur saraf di sepanjang dasar otak, menyebabkan sakit mata. Pembuluh darah di permukaan otak membengkak, menyebabkan sensasi meremas.
Tidak ada obat khusus untuk mengobatinya, tetapi obat-obatan biasa untuk sakit kepala dapat mengurangi frekuensi dan durasi serangan. Kurangi minum alkohol dan rokok bisa mengurangi serangan sakit kepala. Terapi oksigen dengan menghirup oksigen bertekanan melalui masker selama beberapa menit, juga dapat membantu mengecilkan pembuluh darah yang bengkak. Pada kasus yang ekstrem, pasien dapat meminta operasi untuk memblokir saraf trigeminal, yang memicu tekanan di mata.
2. Sakit kepala cluster
|
Ilustrasi (Foto: thinkstock)
|
Selama serangan, penderitanya sering merasa gelisah dan tidak bisa nyaman, tidak mungkin untuk berbaring. Penyebabnya belum diketahui pasti, tetapi para peneliti semakin dekat memahami sakit kepala cluster dan tahu bahwa hipotalamus (daerah otak yang mengontrol sistem saraf otonom dan mengatur hormon, tidur, libido, pernapasan dan proses otomatis tubuh lainnya), menjadi aktif ketika sakit kepala terjadi, tapi peneliti tidak tahu kenapa.
Ketika hipotalamus aktif selama serangan sakit kepala, merangsang jalur saraf di sepanjang dasar otak, menyebabkan sakit mata. Pembuluh darah di permukaan otak membengkak, menyebabkan sensasi meremas.
Tidak ada obat khusus untuk mengobatinya, tetapi obat-obatan biasa untuk sakit kepala dapat mengurangi frekuensi dan durasi serangan. Kurangi minum alkohol dan rokok bisa mengurangi serangan sakit kepala. Terapi oksigen dengan menghirup oksigen bertekanan melalui masker selama beberapa menit, juga dapat membantu mengecilkan pembuluh darah yang bengkak. Pada kasus yang ekstrem, pasien dapat meminta operasi untuk memblokir saraf trigeminal, yang memicu tekanan di mata.
3. Sakit kepala sinus
|
Ilustrasi (Foto: thinkstock)
|
Sakit kepala karena infeksi sinus dapat diobati dengan antibiotik, serta antihistamin atau dekongestan.
3. Sakit kepala sinus
|
Ilustrasi (Foto: thinkstock)
|
Sakit kepala karena infeksi sinus dapat diobati dengan antibiotik, serta antihistamin atau dekongestan.
4. Sakit kepala migrain
|
Ilustrasi (Foto: thinkstock)
|
Migrain dapat meramalkan dengan aura, seperti distorsi visual atau mati rasa di tangan. Sekitar 15% sampai 20% orang dengan migrain mengalami ini.
Perawatan untuk migrain antara lain obat-obatan preventif dan kuratif, seperti obat anti-inflamasi non steroid (nonsteroidal anti-inflammatory drugs atau NSAIDS), triptans (obat yang mengurangi pembengkakan pembuluh darah di otak), opiat, beta-blocker dan antidepresan.
4. Sakit kepala migrain
|
Ilustrasi (Foto: thinkstock)
|
Migrain dapat meramalkan dengan aura, seperti distorsi visual atau mati rasa di tangan. Sekitar 15% sampai 20% orang dengan migrain mengalami ini.
Perawatan untuk migrain antara lain obat-obatan preventif dan kuratif, seperti obat anti-inflamasi non steroid (nonsteroidal anti-inflammatory drugs atau NSAIDS), triptans (obat yang mengurangi pembengkakan pembuluh darah di otak), opiat, beta-blocker dan antidepresan.
5. Sakit kepala rebound (rebound headaches)
|
Ilustrasi (Foto: thinkstock)
|
Satu teori, terlalu banyak obat dapat menyebabkan otak bergeser ke keadaan tereksitasi, memicu sakit kepala. Teori lain, sakit kepala rebound adalah gejala withdrawal (efek balikan) terhadap ketagihan obat penghilang rasa sakit dalam aliran darah, terutama untuk obat-obatan yang mengandung kafein.
Untuk 'mematahkan' siklus sakit kepala rebound, penderitanya harus membatasi konsumsi obat penghilang rasa sakit. Tergantung pada obat yang dikonsumsi, dokter dapat merekomendasikan menghentikan obat segera atau secara bertahap mengurangi dosisnya.
Menghentikan ketergantungan obat penghilang rasa sakit bisa menjadi tidak mudah, bisa jadi sakit kepala malah menjadi lebih buruk. Penderitanya mungkin mengalami gejala withdrawal seperti gugup, gelisah, mual, muntah, insomnia atau sembelit. Gejala ini biasanya berlangsung 2 sampai 10 hari, tetapi bisa menetap selama beberapa minggu.
Dokter mungkin meresepkan berbagai perawatan untuk membantu meringankan rasa sakit dan efek samping yang berhubungan dengan gejala withdrawal. Dihydroergotamine (DHE 45), ergot suntik, dapat membantu meringankan nyeri sakit kepala rebound selama proses withdrawal.
5. Sakit kepala rebound (rebound headaches)
|
Ilustrasi (Foto: thinkstock)
|
Satu teori, terlalu banyak obat dapat menyebabkan otak bergeser ke keadaan tereksitasi, memicu sakit kepala. Teori lain, sakit kepala rebound adalah gejala withdrawal (efek balikan) terhadap ketagihan obat penghilang rasa sakit dalam aliran darah, terutama untuk obat-obatan yang mengandung kafein.
Untuk 'mematahkan' siklus sakit kepala rebound, penderitanya harus membatasi konsumsi obat penghilang rasa sakit. Tergantung pada obat yang dikonsumsi, dokter dapat merekomendasikan menghentikan obat segera atau secara bertahap mengurangi dosisnya.
Menghentikan ketergantungan obat penghilang rasa sakit bisa menjadi tidak mudah, bisa jadi sakit kepala malah menjadi lebih buruk. Penderitanya mungkin mengalami gejala withdrawal seperti gugup, gelisah, mual, muntah, insomnia atau sembelit. Gejala ini biasanya berlangsung 2 sampai 10 hari, tetapi bisa menetap selama beberapa minggu.
Dokter mungkin meresepkan berbagai perawatan untuk membantu meringankan rasa sakit dan efek samping yang berhubungan dengan gejala withdrawal. Dihydroergotamine (DHE 45), ergot suntik, dapat membantu meringankan nyeri sakit kepala rebound selama proses withdrawal.
Halaman 2 dari 12











































