Meski pernah dihajar kanker serviks atau leher rahim, lady rocker Melanie Subono mengaku tidak pernah menjalani kemoterapi. Bahkan terang-terangan, ia menyatakan diri anti-kemoterapi. Sikap ini pun disesalkan oleh dokter kanker.
"Saya tidak pernah kemo (kemoterapi), saya anti-kemo. Di luar negeri, kemo bahkan sudah tidak dianjurkan. Banyak cara lain kok," kata Melanie dengan gayanya yang cuek, ditemui usai peringatan hari kanker sedunia yang digelar Kalbe Farma di Putri Duyung Ancol, Jakarta, seperti ditulis pada Senin (10/2/2014).
Bukan cuma Melanie, masyarakat pada umumnya pun banyak yang menolak kemoterapi sebagai pilihan untuk mengobati kanker. Kebanyakan dari mereka menganggap efek samping kemoterapi sangat mengerikan, dan tidak sebanding dengan peluang kesembuhan kanker yang dideritanya.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Diakui oleh dr Walta, efek samping kemoterapi memang ada. Cara kerja obat kanker yang dipakai dalam kemoterapi adalah menghajar sel-sel dengan pertumbuhan cepat, yang merupakan karakteristik sel-sel kanker. Akibatnya, sel-sel normal yang punya sifat serupa ikut dihajar. Rambut adalah salah satu contohnya, yang menjadi rontok selama kemoterapi
"Kemoterapi memang lebih efektif untuk jenis kanker yang fast growing (pertumbuhannya cepat), jadi memang tidak semua kanker perlu kemoterapi. Kankernya Melanie itu mungkin termasuk lambat," kata dr Walta saat dimintai korfirmasi tentang sikap anti-kemoterapi.
Namun menurut dr Walta, kemajuan teknologi telah banyak mengurangi efek samping kemoterapi, jika memang harus dilakukan. Selain dengan memilah-milah jenis kanker yang perlu dan tidak perlu mendapat kemoterapi, saat ini juga banyak tersedia obat kanker yang kerjanya lebih spesifik yang disebut targeted therapy.
(up/)











































