Terlalu Sering Pakai Bra Tingkatkan Risiko Kanker Payudara?

Terlalu Sering Pakai Bra Tingkatkan Risiko Kanker Payudara?

- detikHealth
Senin, 10 Feb 2014 17:00 WIB
Terlalu Sering Pakai Bra Tingkatkan Risiko Kanker Payudara?
Ilustrasi (dok: Thinkstock)
Jakarta - Para dokter menegaskan bahwa hubungan antara pemakaian bra dengan peningkatan risiko kanker payudara adalah mitos yang menyesatkan. Namun demikian, ada fakta unik yang melatarbelakangi munculnya mitos tersebut.

"Yang membuat mitos tersebut mungkin tidak suka pakai bra," canda dr Walta Gautama, SpB(K)Onk, Kepala Unit Deteksi Dini RS Kanker Dharmais, dalam peringatan hari kanker sedunia yang digelar Kalbe Farma di Putri Duyung Ancol, Jakarta, seperti ditulis pada Senin (10/2/2014).

Namun diakui oleh dr Walta, mitos tersebut memang lahir dari sebuah fenomena nyata. Di sebuah wilayah di Kepulauan Fiji, banyak perempuan tidak memakai bra dan jumlah pengidap kanker payudara di tempat tersebut relatif rendah. Fenomena serupa juga teramati di Jepang.

Para ilmuwan pun berspekulasi tentang hubungan antara bra dan kanker payudara. Melalui serangkaian penelitian, para ilmuwan melakukan perbandingan dengan kelompok lain yang menggunakan bra. Juga dengan kelompok yang tidak menggunakan bra, di tempat lain.

"Akhirnya tidak terbukti bahwa penggunaan bra berhubungan dengan peningkatan risiko kanker payudara. Tapi sampai sekarang hal itu terlanjur menjadi mitos," kata dr Walta.

Ada beberapa faktor risiko kanker payudara yang telah terbukti secara ilmiah, salah satunya hormon esterogen. Hormon seks perempuan itu menjadi salah satu faktor yang mempengaruhi risiko kanker payudara. Kebetulan, ukuran payudara juga dipengaruhi esterogen.

"Karenanya, tidak salah jika dikatakan payudara besar lebih berisiko kena kanker payudara. Kalau itu benar, bukan mitos," kata dr Walta.

Meski punya risiko lebih besar, belum tentu semua perempuan dengan payudara besar akan kena kanker payudara. Demikian pula pemilik payudara kecil, tidak sepenuhnya aman. Deteksi dini penting dilakukan, sebab jika terdeteksi sejak awal maka peluang keberhasilan pengobatan akan lebih besar.


(up/vit)

Berita Terkait