Kamis, 13 Feb 2014 07:14 WIB

Tak Bisa Makan, Selama 25 Tahun Gadis Ini Hanya Minum Saja

- detikHealth
dok: Dailymail
Jakarta - Beberapa orang berdiet dengan hanya mengonsumsi cairan seperti air putih, teh, atau jus. Diet semacam itu disebut dengan diet cairan. Namun, gadis ini seumur hidupnya hanya mengonsumsi cairan bukan karena ia sedang diet. Gadis tersebut memang tak bisa makan makanan padat sejak ia lahir!

Manju Dharra terlahir dengan suatu kelainan pada kerongkongan yang menyebabkan ia tak bisa melahap makanan padat. Makanan padat yang ia raup selalu saja dimuntahkan kembali. Akibatnya ia hanya bisa mengandalkan zat cair untuk menopang kebutuhan gizinya.

Gadis yang sama sekali tak bisa makan itu dapat bertahan hingga saat ini hanya dengan minum susu, teh, susu mentega, air putih, dan terkadang jus. Meski hanya mendapat nutrisi dari minuman, Manju terlihat sehat dan dapat mengerjakan seluruh pekerjaan rumah dengan baik. Tinggi gadis itu bahkan di atas rata-rata wanita India pada umumnya.

"Dia hanya mengonsumi zat cair saja, seperti susu, teh, air putih, dan terkadang jus. Yang sering ia konsumsi adalah susu, teh, susu mentega, dan air. Jika makan makanan padat, ia kemudian akan muntah," ungkap Bhagwati Dharra, ibu Manju, sebagaimana dikutip dari Daily Mail, Kamis (13/2/2014).

Malang bagi Manju, jika memaksa untuk makan makanan padat, ia akan muntah dan kemudian merasa tak enak badan. Kondisi itu menyebabkan trauma tersendiri dan kini Manju menjadi anti makanan padat.

"Jika memakan sesuatu saya kemudian muntah dan merasa sangat, sangat, tidak enak badan. Sekarang saya merasa takut jika melihat makanan padat," ungkap gadis yang memiliki dua saudara lelaki dan lima saudara perempuan itu. Seluruh saudara Manju sehat dan bisa makan dengan normal.

Kelainan yang dialami Manju tak disadari oleh ibunya hingga gadis itu berusia dua tahun. Saat itu Bhagwati mencoba mengenalkan si kecil Manju pada nasi dan roti. Namun anak itu justru menangis dan jatuh sakit.

Awalnya sang ibu mengira Manju hanya rewel atau sedikit nakal, tetapi seiring waktu, ia sadar bahwa putrinya sakit. Manju kemudian dibawa ke beberapa dokter dan mencoba beberapa pengobatan. Namun, semua upaya itu tak membuahkan hasil.

Dr Adarsh Sharma, seorang dokter ahli anak di Jaipur, menjelaskan bahwa kondisi Manju dapat disembuhkan melalui operasi dan Manju harus berkonsultasi pada spesialis. Sayang, kondisi ekonomi keluarga tak memungkinkan bagi Manju untuk menjalani operasi. Ayah dan ibu gadis itu lantas memberinya seekor sapi untuk mencukupi susu yang ia butuhkan.

Manju mengalami achalasia, kelainan di mana kerongkongan kehilangan kemampuan untuk menggerakkan makanan dan katup di ujung kerongkongan tak bisa dilewati makanan untuk menuju ke lambung. Akibatnya makanan terjebak dalam kerongkongan dan dimuntahkan kembali.

Dalam kerongkongan, terdapat sebuah cincin otot yang disebut sphincter jantung. Otot tersebut berfungsi membuka dan menutup jalur penghubung antara kerongkongan dan perut untuk mencegah terjadinya refluks asam. Biasanya, otot ini rileks ketika seseorang sedang menelan sehingga makanan bisa masuk ke perut. Pada kasus achalasia, otot tersebut tidak bisa rileks dengan benar dan kerongkongan menjadi tersumbat oleh makanan. Untuk menanganinya, dibutuhkan operasi.

Achalasia jarang terjadi dan biasanya berkembang secara bertahap. Kelainan tersebut disebabkan karena adanya kerusakan saraf di dinding kerongkongan. Penyebab kerusakan tersebut belum diketahui, tetapi para ahli yakin hal tersebut terkait infeksi virus. Pengobatan yang dapat dilakukan ialah dengan memberikan obat perileks katup perut, memberikan suntikan botox untuk mengendurkan otot, maupun operasi untuk memotong saraf otot yang tak bisa rileks.




(vit/vit)