Pesan Dewan Kehormatan IDI untuk Dokter se-Indonesia: Tetap Rendah Hati

Pesan Dewan Kehormatan IDI untuk Dokter se-Indonesia: Tetap Rendah Hati

- detikHealth
Kamis, 13 Feb 2014 17:29 WIB
Pesan Dewan Kehormatan IDI untuk Dokter se-Indonesia: Tetap Rendah Hati
ilustrasi (Foto: Thinkstock)
Jakarta - Menanggapi kasus dugaan malapraktik yang melibatkan dr Dewa Ayu Sasiary Prawan, dr Hendi Siagian, dan dr Hendry Simanjuntak, di RS Dr Kandau Manado pada 2010 silam, Dewan Kehormatan Ikatan Dokter Indonesia (IDI), Prof Dr Farid Anfasa Moeloek, SpOG, memberikan pesan untuk para dokter se-Indonesia.

"Pertama saya ucapkan syukur saya bahwa Anda (dr Ayu dan rekan -red-) mendapat kepastian bebas dari Mahkamah Agung (MA). Itu berarti kita sudah menegakkan kebenaran," ujar Prof Moeloek, demikian ia akrab disapa, ditemui dalam konferensi pers terkait putusan bebas ketiga dokter tersebut di Kantor PB IDI, Jl G.S.S.Y Ratulangie, Jakarta, Kamis (13/2/2014).

Diungkapkan oleh Prof Moeloek, dirinya pernah bertanya pada sang ayah, dr H Abdul Moeloek, seorang dokter sekaligus tokoh masyarakat yang namanya kini diabadikan menjadi nama salah satu Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) di Lampung, tentang seperti apa dokter yang dikatakan 'baik'.

"Beliau bilang 'kita bisa menjadi sosok malaikat, tapi bisa juga menjadi setan'. Nah, perbedaan yang sangat bertentangan tersebut hanya bisa diketahui oleh dokter itu sendiri dan tentu saja Tuhan Yang Maha Esa," paparnya.

Dokter yang pernah menjabat sebagai Menteri Kesehatan RI Kabinet Reformasi Pembangunan ini kemudian mengungkapkan beberapa pesan penting yang dapat diambil oleh para dokter se-Indonesia terkait kasus dr Ayu cs, yaitu harus tetap rendah hati.

"Hikmahnya koreksi diri sendiri dan jadilah dokter yang lebih baik. Baik dan rendah hati. Selalu ikuti etika-etika kedokteran. Hukum itu hitam dan putih, sementara etika tak hanya sekadar benar dan salah, tapi juga baik dan buruk," tutur anggota dari Dewan Kehormatan IDI ini.

Yang pasti Prof Moeloek mengakui bahwa spesialisasi di bidang obstetri dan ginekologi memang tidaklah mudah. Sebab tak hanya satu, tapi ada dua nyawa yang menggantungkan hidupnya di tangan dokter. "Tapi itu adalah risiko dan tanggung jawab kita, baik pada diri sendiri dan Tuhan," tegasnya.

Sekadar mengingatkan kronologi kasus ini. Pada April 2010, Julia Fransiska Makatey yang sedang hamil anak keduanya masuk ke RS Dr Kandau Manado atas rujukan puskesmas. Pada waktu masuk RS, ia didiagnosis akan melahirkan dan sudah dalam tahap persalinan kala dua. Saat itu, tim dokter yang terdiri atas dr Ayu, dr Hendry, dan dr Hendi merencanakan proses persalinan akan dilakukan secara normal.

Setelah delapan jam masuk tahap persalinan, tidak ada kemajuan dan timbul tanda-tanda gawat janin, sehingga diputuskan untuk dilakukan operasi caesar darurat. Pada waktu sayatan pertama dimulai, keluar darah berwarna kehitaman. Bayi pun berhasil dilahirkan, namun pasca operasi kondisi Julia memburuk. Sekitar 20 menit kemudian, ia dinyatakan meninggal dunia akibat kondisi emboli udara. Hal tersebut kemudian dibawa ke ranah hukum.

(ajg/vit)

Berita Terkait