"Sebaiknya pakai baju lengan panjang, bila perlu pakai kaos kaki dan sarung tangan. Yang penting hindari terkena debu sebisa mungkin," ujar dr Laksmi Duarsa, SpKK, spesialis kulit dari RS Surya Husadha, Denpasar, saat berbincang dengan detikHealth pada Jumat (14/2/2014).
Pemakaian masker di luar ruangan adalah keharusan. Karena selain melindungi saluran pernapasan, juga melindungi kulit wajah dari paparan debu vulkanik. Selain itu debu vulkanik juga bisa menempel di rambut dan kulit kepala. Sama halnya dengan kulit tubuh yang lain, debu vulkanik juga bisa 'melukai' kulit kepala. Karena itu ada baiknya menggunakan pelindung kepala.
"Karena rambut dan kepala juga busa kena, sebaiknya pakai pelindung kepala, seperti topi," sambungnya.
Jika kulit ataupun rambut terkena debu vulkanik, maka bersihkanlah dnegan air yang mengalir. Jangan biarkan debu terlalu lama menempel di kulit dan kulit kepala, apalagi sampai menggosoknya. Sebab debu vulkanik sebenarnya memiliki bentuk yang runcing, sehingga jika dilap, maka akan menjadi seperti amplas.
Dermatitis merupakan suatu peradangan kulit yang timbul setelah kontak dengan alergen melalui proses sensitasi, yaitu terhadap substansi yang bisa menyebabkan reaksi peradangan pada kulit. Namun menurut dr Laksmi, kondisi ini tidak terjadi pada semua orang, tapi hanya pada orang-orang dengan tingkat sensitif tinggi. Gejala yang muncul pada dermatitis misalnya ruam kemerahan, bintik-bintik merah, dan gatal-gatal pada area yang terpapar hujan abu.
Sebagai langkah awal pengobatan jika muncul alergi akibat abu vulkanik, dr Laksmi berpesan untuk membersihkan area yang terpapar hujan abu dengan air bersih, kemudian berikan obat anti-histamin.
(vit/up)











































