Meski Yogya Diselimuti Debu Vulkanik Tebal, Belum Ada Keluhan Kesehatan

Meski Yogya Diselimuti Debu Vulkanik Tebal, Belum Ada Keluhan Kesehatan

- detikHealth
Jumat, 14 Feb 2014 16:10 WIB
Meski Yogya Diselimuti Debu Vulkanik Tebal, Belum Ada Keluhan Kesehatan
Foto: Lila/detikHealth
Yogyakarta - Tebalnya debu vulkanik kiriman dari Gunung Kelud, Kediri tak pelak menimbulkan kekhawatiran akan munculnya gangguan kesehatan pada masyarakat di Kota Pelajar. Beruntung di sejumlah rumah sakit dan puskesmas rujukan juga belum ada laporan keluhan kesehatan dari masyarakat.

"Kasus ISPA (infeksi saluran pernapasan atas) belum ada. ISPA itu biasanya muncul 1-2 hari setelah ini. Kasus mata dan kulit ada beberapa tapi tidak terkait dengan abu vulkanik," lapor Kepala Humas RSUP Dr Sardjito Yogyakarta, Trisno Heru Nugroho ketika ditemui detikHealth di kantornya, Jumat (14/2/2014).

Kendati begitu layanan kesehatan di rumah sakit yang berseberangan dengan UGM ini pun masih berjalan seperti biasa. Hanya saja menurut Heru, jumlah pasien berkurang drastis karena kondisi kota Yogyakarta yang dipenuhi abu vulkanik.

Hal yang sama juga ditemui di Puskesmas Depok III Yogyakarta. "Kalau pasien di sini tak ada yang spesifik berobat akibat efek hujan debu. Tadi paling ngobatin anaknya yang panas, flu, sakit biasa," tutur salah satu dokter jaga yang dimintai keterangan oleh detikHealth.

Di RSUP Sardjito hanya dilaporkan sejumlah korban dari dampak lain erupsi. Empat orang cedera akibat kecelakaan karena kondisi jalan-jalan di Yogyakarta yang dipenuhi abu dan satu orang meninggal setelah terjatuh ketika membersihkan abu di atap rumahnya.

Sejak pagi RSUP Sardjito juga membagikan masker, dan hingga pukul 12.00 WIB terhitung sudah 12 boks masker (masing-masing berisi 50 buah masker) yang dibagikan ke seluruh pengunjung rumah sakit tersebut. "Kami masih ada stok masker sekitar 21.600 buah, sebagian merupakan sisa bantuan dari erupsi Merapi tahun 2010," tambah Heru.

Kepala Bidang Kesehatan Masyarakat Dinkes DIY Yogyakarta, drg. Inni Hikmatin, M.Kes. juga mengedepankan agar masyarakat tak perlu panik, meski mengakui bila kondisi debu vulkanik kiriman Gunung Kelud ini jauh lebih tebal dibandingkan 'muntahan' dari Gunung Merapi.

"Ini bisa jadi lebih berisiko menimbulkan gangguan kesehatan, makanya hidung dan mulut itu harus ditutupi dengan APD (alat pelindung diri). Juga mata. Dan sebisa mungkin tidak keluar rumah," tegas drg. Inni.

"Masker sebenarnya nggak harus beli. Pakai apa saja nggak masalah, bisa kain, saputangan, jilbab asalkan bersih. Dan yang terpenting tetap menjaga PHBS (pola bersih hidup dan sehat), jadi sebelum makan pastikan makanan dan alat makannya bersih," imbuhnya.

(lil/vit)

Berita Terkait