Studi: Tinggal di Lingkungan dengan Prasangka Buruk Picu Kematian Dini

Studi: Tinggal di Lingkungan dengan Prasangka Buruk Picu Kematian Dini

- detikHealth
Selasa, 18 Feb 2014 09:04 WIB
Studi: Tinggal di Lingkungan dengan Prasangka Buruk Picu Kematian Dini
Ilustrasi (Foto: Thinkstock)
Jakarta - Kecurigaan atau prasangka merupakan reaksi sosial yang akan selalu eksis. Meski dianggap normal, sayangnya, prasangka buruk dari lingkungan dapat mengakibatkan kematian dini atau kematian prematur. Demikian menurut sebuat studi yang baru-baru ini dirilis.

Dalam studi itu, peneliti dari Columbia University’s Mailman School of Public Health menemukan bahwa kaum lesbian, gay, dan biseksual (LGB) yang tinggal di komunitas antigay dengan sentimen berlebih, memiliki rentang usia yang lebih pendek dibanding mereka yang tinggal di tempat yang lebih toleran. Angka harapan hidup mereka rata-rata 12 tahun lebih pendek dibanding dengan LGB yang tinggal di tempat lain.

"Hasil penelitian ini menunjukkan betapa luasnya konsekuensi dari prasangka, termasuk di dalamnya kematian dini," ungkap Mark Hatzenbuehler, penulis studi tersebut, dalam sebuah rilis pers.

Hatzenbuehler dan timnya telah mengumpulkan data sejak tahun 1988. Para ilmuwan itu mencoba mengukur level prasangka di suatu tempat dan membandingkannya dengan tempat lain. Mereka juga mengaitkan informasi mengenai orientasi seksual, level prasangka komunitas, dan data tingkat mortalitas.

Ketika studi telah usai, 92% LGB yang tinggal di area dengan level prasangka rendah, diketahui masih hidup. Sedang LGB yang tinggal di area pekat prasangka, hanya 78% saja yang masih hidup.

"Penemuan kami mengindikasikan bahwa kaum berorientasi seks minoritas yang tinggal di komunitas berprasangka tinggi, lebih cepat meninggal dibanding kaum berorientasi seksual minoritas yang tinggal di komunitas dengan level prasangka rendah," papar Hatzenbuehler.

Penulis studi juga mengungkap bahwa hasil penelitian itu terbebas dari faktor penentu kematian lain, seperti pendapatan rumah tangga, pendidikan, gender, etnis, dan usia. Hasil penelitian juga independen dari rata-rata pendapatan dan tingkat pendidikan komunitas yang ditinggali.

Yang menjadi pertanyaan, mengapa prasangka dapat menyebabkan kematian dini pada mereka yang memiliki orientasi seks berbeda?

Hatzenbuehler menemukan bahwa bunuh diri, pembunuhan, kekerasan, serta penyakit jantung, rentan dialami oleh kaum minoritas yang tinggal di komunitas yang sangat sentimen terhadap mereka. Mereka yang memiliki orientasi seks berbeda itu rentan mengalami stres atau penyakit mental akibat tekanan dari lingkungannya.

Ia berpendapat lingkungan dengan level prasangka yang tinggi menyebabkan bertambahnya kasus kematian atau pembunuhan yang diakibatkan tindak kekerasan. Demikian juga dengan kematian akibat gangguan jantung yang diasosiasikan dengan stres. Fakta dari penelitian itu, 25% kematian kaum LGB yang tinggal di komunitas yang tinggi prasangka diakibatkan oleh gangguan jantung.

Ia juga pernah menulis studi mengenai dampak lingkungan sosial terhadap kesehatan seseorang, termasuk dampak kondisi sosial terhadap terjadinya kasus bunuh diri para remaja LGB.

"Diskriminasi, prasangka, dan marginalisasi sosial menyebabkan beberapa akibat unik pada individu, yang akan merangsang stres." Demikian pungkas Hatzenbuehler sebagaimana dilansir Medical Daily dan ditulis pada Selasa (18/2/2014).

(vit/vit)

Berita Terkait