Penelitian yang dipublikasikan dalam Psychological Bulletin mengungkapkan wanita paling tertarik dengan pria yang maskulin selama periode ovulasinya, meskipun ketertarikan tersebut tak bersifat permanen. Ketertarikan itu misalnya pada tipe pria yang memiliki tubuh dan wajah simetri.
Suara yang lebih dalam dan menggambarkan lebih banyak kandungan testosteron bagi pria juga sangat menarik bagi wanita. Nah, untuk studi ini, peneliti meninjau penelitian yang dipublikasikan dan tidak dipublikasikan mengenai preferensi perempuan untuk pasangannya dan bagaimana perubahan selera terjadi selama siklus menstruasi mereka.
"Selama ovulasi wanita lebih suka pria yang lebih maskulin dengan fitur wajah dan tubuh yang lebih kuat dan membangun. Tapi ketertarikan ini tak begitu kuat di hari-hari lainnya. Secara statistik, perubahan kecil ini akan menjadi signifikan," jelas profesor psikologi dan studi komunikasi, Martie Haselton.
Dikutip dari CBS News, Selasa (18/2/2014), perilaku ini bisa menjadi ciri-ciri sisa evolusi yang secara naluriah bisa menjamin perempuan mendapatkan keturunan terbaik dari pasangannya yang maskulin ketika masa subur. Tapi, di luar periode itu Haselton menjelaskan ada alasan yang pas mengapa wanita tak terlalu tertarik pada pria maskulin.
"Pria yang tidak maskulin terkesan lebih ramah dan lembut. Sedangkan, ketika ovulasi mereka ingin mendapatkan sosok yang bisa mengayomi dan menjadi ayah yang baik bagi anak-anaknya," kata Haselton.
Sementara itu, Steve Gangastad, profesor perkembangan evolusi di University of New Mexico yang tidak terlibat dalam penelitian mengatakan kepada USA Today bahwa hasil penelitian ini bisa bermanfaat bagi pria yang sedang mendekati wanita.
"Pada wanita, mereka bisa jadi lebih tahu bahwa ketika ovulasi tiba-tiba tertarik dengan rekan kerja yang maskulin, itu hanya ketertarikan sementara yang merupakan sisa 'peninggalan' masa lalu sebagai akibat dari evolusi saja," papar Haselton.
(rdn/vit)











































