Senin, 24 Feb 2014 17:10 WIB

Nasib Permenkes Sunat Perempuan

Ini Kata Dokter Tentang Sunat Perempuan

- detikHealth
Foto: Ilustrasi (Thinkstock)
Jakarta - Sunat pada perempuan sejak lama telah menjadi kontroversi. Jika sunat perempuan mengacu pada female genital mutilation (FGM), maka Majelis Umum PBB telah melarang praktik ini. Nah, di Indonesia bagaimana praktik sunat perempuan dilakukan?

Majelis Ulama Indonesia (MUI) menyebut sunat perempuan bersifat makrumah (ibadah yang dianjurkan). Tata cara pelaksanaan khitan perempuan menurut ajaran Islam adalah cukup dengan menghilangkan selaput yang menutupi klitoris.

"Digores sedikit saja. Tidak boleh berlebihan apalagi sampai dipotong. Dalam ajaran agama juga tidak boleh melakukan yang berlebihan," papar Wakil Ketua Umum MUI Ma'ruf Amin.

Jika digores tentunya akan meninggalkan bekas luka. Bukankah hal itu nantinya akan menyebabkan sakit pada anak? Adakah bahaya yang dirasakan ketika perempuan sudah dewasa?

Menanggapi hal ini, Ketua Majelis Kehormatan Disiplin Kedokteran Indonesia (MKDKI), Prof. Dr. dr. Ali Baziad, SpOG(K) mengatakan bahwa tidak ada masalah.

"Kalau hanya digores sedikit sekadar syarat tidak akan ada permasalahan," paparnya ketika dihubungi detikHealth, Senin (24/2/2014).

Ia menuturkan selama 20 tahun lebih menjadi dokter kandungan, tidak pernah ada pasien yang datang dan mengatakan ada keluhan karena sunat perempuan, baik dari ibu atau anaknya.

Namun ia juga mengakui bahwa dirinya belum pernah melakukan apa yang disebut orang sebagai sunat perempuan tersebut. Dikatakannya bahwa kebanyakan pasien melakukan hal tersebut ketika sudah pulang ke rumah.

Sementara itu DR. dr. Nur Rasyid, SpU(K), Ketua Departemen Urologi RSCM, mengatakan selama ini praktik sunat perempuan yang dikenalnya adalah penyayatan penutup klitoris semata. Jangan dibayangkan penyayatan ini akan membuat organ genital anak perempuan jadi berdarah-darah. Sebab hanya dengan menggunakan jarum saja, lapisan penutup klitoris sudah bisa dirobek.

"Itu merupakan puncak atas dari vagina, jadi kulitnya disayat supaya klitorisnya semakin terekspos jadi justru wanita bisa menikmati rangsangan lebih baik. Tidak ada yang dibuang dari sunat wanita itu," terang dr Nur Rasyid dalam perbincangan dengan detikHealth beberapa waktu lalu.



(up/vit)