Lansia yang Lebih Banyak Duduk Lebih Berisiko Sandang Disabilitas

Lansia yang Lebih Banyak Duduk Lebih Berisiko Sandang Disabilitas

- detikHealth
Rabu, 26 Feb 2014 09:46 WIB
Lansia yang Lebih Banyak Duduk Lebih Berisiko Sandang Disabilitas
ilustrasi (Foto: Thinkstock)
Jakarta - Semakin lanjut usia, keinginan untuk duduk-duduk bersantai seharian akan semakin besar. Kebiasaan yang lazim itu bukan merupakan kebiasaan baik. Sebab menurut sebuah penelitian, tambahan satu jam untuk duduk ternyata melipatgandakan risiko disabilitas pada lansia.

Pada pria atau wanita berusia di atas 60, tiap tambahan jam yang dihabiskan untuk duduk akan meningkatkan risiko disabilitas. Yang mengecewakan, olahraga tidak akan dapat melindungi seseorang dari bahaya tersembunyi yang ditimbulkan kebiasaan duduk berkepanjangan. Demikian ungkap studi studi baru tersebut.

Dalam studi itu para ilmuwan mengamati data 2.286 sampel lansia berusia 60 atau lebih tua. Data itu berasal dari sebuah survei nasional Amerika, yakni US National Health and Nutrition Examination Survey. Para partisipan merupakan lansia yang memiliki tingkat kesehatan, aktivitas menengah, dan aktivitas berat yang sama.

Partisipan diminta mengenakan akselerometer terhitung mulai 2002 hingga 2005 untuk mengukur aktivitas mereka. Berapa banyak waktu yang digunakan untuk duduk-duduk, untuk melakukan aktivitas fisik sedang, dan berat. Demikian laporan dalam Journal of Physical Activity & Kesehatan.

Studi ini merupakan studi pertama yang menunjukkan bahwa kurang gerak merupakan salah satu faktor risiko yang dapat memicu disabilitas, terlepas dari kurangnya olahraga. Faktanya, kelembaman merupakan faktor risiko yang sama kuatnya dengan kurang olahraga.

"Ini adalah pertama kalinya kami menunjukkan bahwa kebiasaan diam saja berhubungan dengan meningkatnya risiko disabilitas, terlepas berapa banyak olahraga moderat yang dilakukan," ungkap Dorothy Dunlop, professor kedokteran di Northwestern University Feinberg School of Medicine.

"Dan diam saja bukan merupakan sinonim dari aktivitas fisik yang kurang," tambahnya.

Jika ada dua wanita berusia 65 tahun, salah satunya tidak beraktivitas selama 12 jam dan yang lain selama 13 jam dalam satu hari, maka wanita kedua berisiko 50% menjadi penyandang disabilitas. Disabilitas diketahui membatasi seseorang untuk berberak, membawa, atau mengangkat sesuatu.

Risiko disabilitas akan meningkat seiring pertambahan usia. Risiko itu 6% pada kanak-kanak, 16% pada orang dewasa usia kerja, dan 45% pada pensiunan.

Bahkan, ada bukti yang menunjukkan bahwa terlalu banyak duduk bisa jadi merupakan faktor risiko baru penyebab kematian dini dan berbagai penyakit. Profesor Dunlop pun terkejut mendapati hasil penemuan itu.

"Ini berarti orang dewasa yang lebih tua harus mengurangi waktu yang dihabiskan untuk duduk-duduk, baik di depan televisi atau di depan komputer, terlepas dari keikutsertaan mereka pada aktivitas sedang atau berat," ungkapnya sebagaimana dikutip dari Daily Mail, Rabu (26/2/2014).

Meski demikian, karena penelitian yang dilakukannya hanya menguji satu data pada rentang waktu tertentu, tak dapat langsung disimpulkan bahwa kebiasaan duduk-duduk menyebabkan disabilitas. Hanya saja, kebiasaan itu merupakan pemicu yang potensial.

Penelitian Dunlop memperkuat beberapa penelitian sebelumnya terkait kebiasaan duduk. Sebuah penelitian terdahulu menunjukkan adanya hubungan antara kebiasaan duduk-duduk dengan disabilitas, tetapi penelitian itu hanya berdasar laporan pribadi dan tak dapat diverifikasi.

Penelitian lain menemukan bahwa menonton televisi selama 6 jam dalam satu hari dapat memperpendek usia hingga lima tahun jika dibandingkan dengan orang yang tak pernah menonton televisi. Orang yang duduk lebih lama juga memiliki ukuran pinggang lebih besar, kadar kolesterol, level gula darah, dan kadar trigliserida yang lebih tinggi.

(vit/vit)

Berita Terkait