Mohamed Imran Khan baru berusia 12 tahun ketika ia mulai mengalami kerontokan rambut. Kini rambut di kepala mahasiswa yang telah berusia 17 tahun ini sudah tidak merata, tampak jarang di bagian atas, bahkan berketombe. Ia pun tak bisa bergaya dan menata rambutnya ala anak muda.
Imran telah mencoba semua jenis sampo. Ia pun mencoba berbagai cara yang direkomendasikan untuk mengurangi kerontokan rambut. Dua tahun lalu, sang ibu juga telah membawanya ke klinik homeopati, di mana ia diberi pil dan krim rambut. Tapi semua usaha tersebut tidak ada yang benar-benar membantunya.
Imran juga menghindari makan makanan pedas dan tidur cukup setidaknya 8 jam sehari, sesuai dengan petunjuk hasil penelitian yang dilakukannya sendiri di internet. Tapi hal itu juga tidak memberikan hasil yang berarti.
Dia tahu kerontokan rambutnya mungkin disebabkan karena keturunan. Ayah, paman, dan kakeknya, semua mengalami kerontokan rambut di usia 20-an, masalah yang juga mempengaruhi sepupu laki-lakinya. Imran sadar masalahnya akan bertambah buruk dengan bertambahnya usia, karena itu ia ingin mencari solusi sebelum kerontokan rambutnya menjadi tak dapat disembuhkan.
"Rambut adalah simbol dari identitas kita karena orang menilai kita berdasarkan penampilan kita. Ketika saya punya anak dan cucu di masa depan, saya ingin bisa menunjukkan kepada mereka foto diri saya dan memberitahu mereka bagaimana hari-hari saya di masa muda," jelas Imran, seperti dikutip detikHealth dari Asiaone, Rabu (26/2/2014).
Sayangnya, harapan yang telah ia sematkan dalam resolusi tahun 2014 tampaknya tidak banyak membuahkan hasil. Empat dermatologist yang telah didatangi bahkan tidak mengetahui penyebab kerontokan rambut yang dialaminya. Tetapi mereka mengatakan kulit gatal sensitif dengan sedikit sisik tebal yang ditumpahkan sebagai ketombe, dapat menunjukkan bentuk eksim yang dikenal sebagai seborrhoeic dermatitis.
(mer/vit)











































