Menurut Lembaga Penyelidikan Ekonomi dan Masyarakat, kosmetik yang paling banyak dipalsukan adalah kosmetik untuk kulit wajah.
Menurut Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM), obat yang paling sering dipalsukan adalah obat untuk disfungsi ereksi. "Obat disfungsi ereksi itu yang paling diminati. Pain killer dan juga antibiotik juga menempati tempat yang cukup teratas," kata Roy A. Sparringa selaku ketua BPOM, saat hadir dalam acara konferensi pers Data Peredaran Obat dan Kosmetika Palsu, di @america Pacific Place, jalan Jenderal Sudirman, Jakarta Pusat, dan ditulis pada Kamis (27/2/2014).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Pihak BPOM sendiri sebenarnya telah mempunyai program untuk memberantas obat palsu, yang dilaksanakan setiap tahunnya. Program bernama Pangea ini, tahun lalu bekerja sama dengan interpol untuk memberantas obat dan kosmetik palsu.
"Kami mengamankan produk sebesar 5,6 milyar dalam seminggu. Ada 20 sarana yang berhasil digeledah, 14 diantaranya diproses. Kami juga menutup 156 situs," jelas Roy A. Sparringa.
Dalam menghadapi tren penjualan obat dan kosmetik palsu melalui internet, pihak BPOM mengaku bekerja sama dengan Polri, untuk memutus mata rantai penjualan ini, karena ini telah memasuki ranah cyber crime, dan juga karena transaksi secara elektronik ini, dinilai cukup rumit, dan tidak bisa diselesaikan hanya dari pihak BPOM saja.
(vit/vta)











































