Hati-hati, Obat Seperti Ini Paling Sering Dipalsukan

Hati-hati, Obat Seperti Ini Paling Sering Dipalsukan

- detikHealth
Kamis, 27 Feb 2014 07:50 WIB
Hati-hati, Obat Seperti Ini Paling Sering Dipalsukan
ilustrasi (Foto: Thinkstock)
Jakarta - Bagi masyarakat, khususnya para pengguna obat dan kosmetik, harus lebih berhati-hati lagi dalam membeli produk. Karena penjualan obat dan kosmetik palsu yang beredar di masyarakat terus meningkat. Apalagi dengan kemajuan teknologi saat ini, penjualan obat dan kosmetik palsu bisa dilakukan lewat online.

Menurut Lembaga Penyelidikan Ekonomi dan Masyarakat, kosmetik yang paling banyak dipalsukan adalah kosmetik untuk kulit wajah.

Menurut Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM), obat yang paling sering dipalsukan adalah obat untuk disfungsi ereksi. "Obat disfungsi ereksi itu yang paling diminati. Pain killer dan juga antibiotik juga menempati tempat yang cukup teratas," kata Roy A. Sparringa selaku ketua BPOM, saat hadir dalam acara konferensi pers Data Peredaran Obat dan Kosmetika Palsu, di @america Pacific Place, jalan Jenderal Sudirman, Jakarta Pusat, dan ditulis pada Kamis (27/2/2014).

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Menurutnya tingkat penjualan obat dan kosmetik palsu ini sangat sulit untuk diberantas, karena adanya permintaan dari masyarakat, sehingga pihak produsen juga tidak berhenti memproduksi obat dan kosmetik palsu tersebut. Ditambah lagi dengan tren saat ini, di mana obat dan kosmetik palsu yang dijual melalui internet, sehingga semakin memudahkan masyarakat untuk mendapatkannya.

Pihak BPOM sendiri sebenarnya telah mempunyai program untuk memberantas obat palsu, yang dilaksanakan setiap tahunnya. Program bernama Pangea ini, tahun lalu bekerja sama dengan interpol untuk memberantas obat dan kosmetik palsu.

"Kami mengamankan produk sebesar 5,6 milyar dalam seminggu. Ada 20 sarana yang berhasil digeledah, 14 diantaranya diproses. Kami juga menutup 156 situs," jelas Roy A. Sparringa.

Dalam menghadapi tren penjualan obat dan kosmetik palsu melalui internet, pihak BPOM mengaku bekerja sama dengan Polri, untuk memutus mata rantai penjualan ini, karena ini telah memasuki ranah cyber crime, dan juga karena transaksi secara elektronik ini, dinilai cukup rumit, dan tidak bisa diselesaikan hanya dari pihak BPOM saja.

(vit/vta)

Berita Terkait