Tak Ada Cara Pasti, Skrining Kesehatan Jadi Kunci Cegah Kanker Usus

Tak Ada Cara Pasti, Skrining Kesehatan Jadi Kunci Cegah Kanker Usus

- detikHealth
Kamis, 27 Feb 2014 19:16 WIB
Tak Ada Cara Pasti, Skrining Kesehatan Jadi Kunci Cegah Kanker Usus
Ilustrasi (Foto: thinkstock)
Jakarta - Di Indonesia, kejadian kanker yang paling banyak terjadi memang kanker payudara dan kanker leher rahim. Tapi jangan salah, kanker usus pun patut mendapat perhatian khusus.

"Indonesia menempati urutan ketiga jumlah kanker usus dengan pasien laki-laki terbanyak di dunia. Sedangkan Jepang nomor satu di dunia untuk jumlah pasien kanker usus wanitanya," papar Yoshinori Morita, MD, PhD dari Departemen Gastroenterologi Kobe University School of Medicine.

Menurut Morita, kanker usus sebagian besar disebabkan komplikasi terutama cara makan dan gaya hidup. Meskipun, ia mengakui tidak mengetahu pasti perbandingan pasien kanker usus di Indonesia dan Jepang.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Tapi kita bisa tahu bahwa penduduk Indonesia dua kali jumlah penduduk di Jepang," ujar Morita usai menjadi pembicara dalam Medical Exellence Japan Seminar di Hotel Indonesia Kempinski, Jakarta, Kamis (27/2/2014).

Untuk mencegah kanker usus, dikatakan Morita tidak ada jalan khusus yang bisa dilakukan. Tapi, yang terpenting adalah dengan melakukan skrining terutama bagi yang berusia 40 tahun ke atas. Sebab, di usia tersebut seseorang rentan memiliki polip usus.

"Kalau ada polip biasanya akan dioperasi terutama saat ukurannya sudah lebih dari 5 mm," ujar Morita.

Terkait asupan, dikatakan Morita makanan pedas memang berkontribusi pada kejadian kanker usus. Namun, ia menekankan yang patut menjadi perhatian adalah mulai mengubah gaya hidup terutama konsumsi daging di mana lemak dalam daging bisa jadi pemicu kanker usus. "Mulai sekarang ubahlah gaya hidup seperti kurang makan sayur, kurang olahraga, banyak makan lemak dan fast food," kata Morita.

Meskipun bahaya kanker usus tergantung stadium, tapi jika sel kanker masih ada di satu titik, hal itu masih bisa ditangani. "Jika usus sampai bolong maka paling fatal adalah kematian," terang Morita.

(rdn/vit)

Berita Terkait