Jumat, 28 Feb 2014 10:43 WIB

Pengobatan Diabetes

Kolagit dan Hilangnya Momentum Pengobatan

- detikHealth
Foto: Ilustrasi/Thinkstock
Jakarta - Gita Adinda Nasution, seorang mahasiswi di Sumatera Utara menjadi 'selebriti' baru di kalangan pasien diabetes. Ia kebanjiran order Kolagit, ramuan gula tebu ciptaannya yang diklaim manjur menurunkan kadar gula darah.

Tidak diketahui pasti apa komposisi yang terkandung dalam ramuan herbal tersebut, Gita sendiri masih merahasiakannya. Sedikit saja bocoran darinya, Kolagit mengandung gula tebu dan memiliki rasa seperti kopi. Dengan alasan itu pula dinamakan Kolagit, singkatan dari Kopi Gula Gita.

"Kolagit juga memperbaiki fungsi pankreas, ginjal, dan lambung yang rusak karena komplikasi diabetes," kata Gita yang mengaku sudah menguji khasiat Kolagit pada sekelompok mencit di laboratorium, saat dihubungi detikHealth baru-baru ini, seperti ditulis pada Jumat (28/2/2014).

Terlepas dari valid atau tidaknya klaim Gita, fenomena Kolagit mengingatkan bahwa beberapa obat diabetes penting yang dipakai saat ini juga berasal dari tumbuhan. Tentunya, setelah melalui serangkaian uji klinis oleh para ilmuwan dan mengalami perkembangan selama berpuluh-puluh tahun.

Salah satunya adalah Metformin, obat diabetes golongan biguanida yang berasal dari tanaman Galega officinalis. Tanaman berbunga ini banyak ditemukan di Eropa dan memiliki nama populer French Lilac. Sejak ribuan tahun silam, tanaman ini secara tradisional dipakai untuk mengobati poliuria (banyak kencing) dan halitosis (bau mulut), 2 gangguan kesehatan yang berhubungan dengan gejala diabetes.

Emil Warner dan James Bell pertama kali menemukan kandungan Metformin dari tanaman tersebut pada tahun 1922, dengan nama kimia 'N'-dimethylguanidine. Efek hipoglikemik atau menurunkan kadar gula darah dari obat ini teramati pada kelinci pada tahun 1929, dalam eksperimen yang dilakukan oleh Slotta dan Tschesche.

Sejak saat itu, para ilmuwan meyakini bahwa Metformin sangat potensial untuk dikembangkan sebagai obat diabetes. Sayangnya, temuan ini tenggelam di tengah gegap gempita penemuan insulin pada tahun 1922 oleh ilmuwan Kanada, Frederick Banting, dan asistennya, Charles Best.

Insulin pada masa itu dianggap sebagai mujizat yang menyelamatkan jutaan manusia dari 'vonis mati' diabetes. Begitu pentingnya, sampai-sampai Banting dan rekan-rekannya menggratiskan paten insulin. Atas temuan ini, Banting pun mendapat penghargaan Nobel di bidang kedokteran pada 1923.

Metformin kembali dilirik setelah penggunaannya pada manusia disetujui di Inggris pada 1950, dan di Kanada pada 1972. Amerika Serikat baru menyetujui pada 1995, saat perusahaan farmasi Bristol-Myers Squibb memproduksi obat ini dengan nama Glucophage. Sejak saat itu, Metformin menjadi obat diabetes paling banyak diresepkan untuk diabetes, yakni sekitar 120 juta resep/tahun.

"Hingga kini Metformin menjadi drug of choice lini pertama yang paling banyak digunakan untuk diabetes di seluruh dunia," kata dr Dante Saksono Harbuwono, SpPD, PhD, peneliti diabetes dari Divisi Metabolik Endokrin, Departemen Ilmu Penyakit Dalam, Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia.

Dari tumbuh-tumbuhan pula, obat diabetes paling mutakhir yakni SGLT2 (Sodium Glucose co-Transferase 2) Inhibitor berasal. Obat golongan gliflozin, yang belum banyak digunakan di Indonesia ini, awalnya juga berasal dari kulit kayu sejenis pohon apel yang tumbuh di Prancis.

Sama seperti metformin, SGLT2 Inhibitor juga melalui perjalanan panjang sejak ditemukan dalam tumbuh-tumbuhan pada tahun 1835, hingga disetujui penggunaannya pada manusia. Beberapa obat dari golongan ini, canagliflozin dan dapagliflozin baru disetujui penggunaannya pada manusia di Amerika Serikat pada 2013.

'Jump to Conclusion'

Berkaca dari sejarah Metformin dan SGLT2 Inhibitor, obat diabetes tidak muncul begitu saja dari alam. Sebelum diklaim sebagai obat, kandungan berkhasiat dari tumbuh-tumbuhan terlebih dahulu melalui serangkaian uji. Mulai dari eksperimen di laboratorium, hingga uji preklinis pada binatang maupun uji klinis pada manusia.

Tak cukup hanya manjur, obat yang baik juga harus aman, bisa ditoleransi, dan sesedikit mungkin memiliki efek samping. Membuktikannya tidak sembarangan, harus melibatkan ilmuwan-ilmuwan dengan sertifikat Good Clinical Practice (GCP) yang diakui secara internasional.

"Yang terjadi, beberapa ilmuwan melakukan 'jump to conclusion' saat meneliti herba. Langsung menyimpulkan manjur, tanpa mengetahui efek samping dan cara kerjanya," kata dr Dante, yang juga memegang sertifikat GCP dan banyak meneliti herba untuk diabetes.

Seringnya terjadi 'lompatan-lompatan' dalam menyimpulkan hasil penelitian herba, menurut dr Dante bisa menjerumuskan pasien. Klaim yang prematur membuat pasien berharap terlalu banyak, lalu meninggalkan pengobatan standar. Ketika herba yang belum teruji itu ternyata tidak manjur atau memiliki efek samping yang tidak diharapkan, pasien sudah kehilangan momentum pengobatan karena penyakitnya terlanjur memburuk.

Lompatan seperti itu terjadi juga pada Kolagit, ketika khasiatnya sebagai obat diabetes hanya dibuktikan melalui testimoni beberapa pasien diabetes yang pernah mencobanya. Pun tidak bisa disebut sebagai temuan baru, sebab khasiat antidiabetes tanaman tebu sudah diteliti sejak puluhan tahun sebelumnya.

"Tebu memang mengandung saccharans, senyawa polisakarida yang punya sifat antidiabetes. Ilmuwan Jepang, Michiko Takahashi pernah menelitinya pada tikus dan dimuat di jurnal Planta Medica tahun 1985," kata Prof Dr CJ Soegihardjo, Apt, peneliti obat tradisional dari Fakultas Farmasi Universitas Sanata Dharma Yogyakarta.
 
 
 
Selain tebu, beberapa tumbuhan yang pernah diteliti sebagai obat diabetes bisa dilihat melalui tautan berikut:

Infografis: Beberapa Tumbuhan yang Diteliti Sebagai Obat Diabetes


(up/vit)