Kisah Hafidz, Bocah dengan Allegile Syndrome yang Sukses Transplantasi Hati

Kisah Hafidz, Bocah dengan Allegile Syndrome yang Sukses Transplantasi Hati

- detikHealth
Senin, 03 Mar 2014 07:01 WIB
Kisah Hafidz, Bocah dengan Allegile Syndrome yang Sukses Transplantasi Hati
Muhammad Sayid Hafidz (Foto: Zanel/detikHealth)
Jakarta - Transplantasi hati bukan hanya dapat dialami oleh orang dewasa, melainkan juga anak-anak. Hal inilah yang terjadi pada Muhammad Sayid Hafidz, anak berusia 8 tahun yang harus merasakan operasi transplantasi hati akibat penyakit yang dideritanya.

Allegile Syndrome adalah penyakit yang diderita oleh Hafidz. Sindrom ini sangatlah langka. Hafidz dideteksi terkena sindrom ini sejak masih di dalam kandungan. Saat lahir, Hafidz terlahir dengan cacat fisik, gangguan organ jantung, dan kelainan organ liver.

"Kelainan ini menyebabkan tulang kaki Hafidz sampai osteoporosis. Hafidz pernah jatuh hingga menyebabkan kakinya patah," ujar Sugeng Kartika, ayahanda Hafidz, pada sebuah rekaman yang diputar di acara Press Conference Transplantasi Perdana RS Pertamedika Sentul City, di RS Pertamedika, Jl. MH Thamrin, Sentul City-Bogor, dan ditulis pada Senin (3/3/2014).

Sugeng menuturkan bahwa kondisi Hafidz yang semakin parah membuatnya harus segera dioperasi. Semakin parah kondisi liver Hafidz, maka semakin parah juga dampak lain yang dirasakannya, seperti osteoporosis. Bahkan Sugeng menyatakan bahwa Hafidz sudah mengalami patah tulang di 3 tulang kakinya dan 1 tulang bengkok pada tangannya.

Melihat kondisi Hafidz yang semakin parah, Sugeng dan istrinya, Maria, semakin memikirkan cara yang harus mereka lakukan. Pada tahun 2013, sebuah solusi pun hadir untuk mengobati Hafidz, yaitu dengan transplantasi hati.

Sugeng pun siap untuk mendonorkan separuh dari hatinya untuk diberikan kepada putra sulungnya. Berbekal dari bantuan berbagai pihak, seperti pemerintah, swasta, maupun rumah sakit, akhirnya transplantasi hati untuk Hafidz dapat dijalankan.

"Pada 24 Februari 2014, alhamdulillah operasi transplantasi hati untuk Hafidz dalam dijalankan. Operasi ini sendiri dilakukan selama kurang lebih 15 jam," ungkap dr Kamelia Faisal, MARS, direktur RS Pertamedika Sentul City (RSPSC).

dr Kamelia mengungkapkan bahwa transplantasi hati pada anak ini bukanlah merupakan hal yang baru di Indonesia. Namun, dengan sindrom yang diderita Hafidz, di mana sindrom tersebut sangat jarang, maka transplantasi seperti ini jadi yang pertama kali dilakukan di Indonesia.

Hati yang ditransplantasi adalah milik ayahanda Hafidz, di mana digunakan 20 persennya. Dengan memakai jasa tim medis yang berpengalaman dari RSPSC, RS Sutomo Surabaya, RS Hasan Sadikin Bandung, serta didampingi oleh Prof. Koichi Tanaka dan tim medis dari Jepang, operasi pun dapat berjalan dengan lancar.

"RS Sutomo pernah melakukan transplantasi hati pada anak, namun untuk allegile syndrome ini langka. Hafidz pun harus menunggu 7 tahun untuk dapat dioperasi," tutur dr Kamelia yang juga merupakan Ketua Tim Dokter Transplantasi Hati Perdana RSPSC.

Hal senada diungkapkan oleh Prof. Tanaka. Menurut Prof. Tanaka, kalau tidak cepat dioperasi, kondisi Hafidz bisa semakin memburuk.

"Bilirubin dalam tubuh Hafidz sangat banyak, ditambah lagi organ tubuh Hafidz sangat buruk. Kasus ini pun dapat dikatakan sulit," ujar Prof. Tanaka yang telah menangani kasus transplantasi sebanyak 2.500 di dunia.

Saat ini, kondisi Hafidz sudah mulai membaik. dr Kamelia menuturkan, "Perkembangan Hafidz menggembirakan. Kami sebagai tim medis, beserta keluarga tentunya, tinggal berjuang hari demi hari supaya Hafidz bisa tumbuh normal."

Meskipun sudah menunjukkan perkembangan yang menggembirakan, tim medis mengakui bahwa Hafidz butuh waktu yang masih cukup lama untuk bisa beraktivitas normal. Hafidz pun belum bisa ditemui orang banyak karena sistem imun tubuhnya rendah, sehingga khawatir tertular penyakit lain yang dapat membahayakan kondisinya.

"Hafidz membutuhkan pemulihan dalam waktu yang lama. Kami pun tidak bisa menyebutkan secara pasti kapan ia bisa beraktivitas normal. Karena itu semua tergantung kondisi Hafidz juga kondisi hati yang ditransplantasinya itu," ungkap dr Kamelia.

Lantas bagaimana dengan kondisi ayahanda Hafidz sebagai pendonor hati? dr Kamelia mengungkapkan bahwa saat ini Sugeng sudah bisa secara normal makan dan berjalan. Sugeng pun disebutkan tidak memerlukan lagi obat-obatan secara khusus.



(vta/vta)

Berita Terkait