Penemuan ini seakan menambahkan kalau patah hati ternyata tidak hanya memberikan efek berupa depresi, namun juga dapat melemahkan sistem imun tubuh sehingga berisiko mendatangkan berbagai macam penyakit.
Begitu banyak penyebab yang kompleks dari sindrom patah hati ini. Patah hati yang dimaksud tidak hanya patah hati karena putus cinta, namun juga karena ditinggalkan orang terkasih akibat kematian. Produksi kortisol, sebuah reaksi kimia yang diberikan kelenjar adrenal sebagai bagian dari respons terhadap sesuatu yang dianggap berbahaya terhadap diri manusia, dipercaya sebagai salah satu sumber terbesar dari masalah dari sindrom patah hati ini.
Berikut ini adalah beberapa masalah kesehatan yang dipercaya sebagai dampak buruk patah hati, seperti dikutip Daily Mail, Senin (3/3/1014):
|
Foto: Ilustrasi/Thinkstock
|
1. Rambut Rontok
|
Foto: Ilustrasi/Thinkstock
|
Tingkat produksi kortisol yang tinggi dapat menyebabkan 30% atau bahkan lebih rambut rontok. Tidak heran, apabila hal ini terus berlanjut selama 3 bulan, maka dapat menyebabkan kebotakan.
1. Rambut Rontok
|
Foto: Ilustrasi/Thinkstock
|
Tingkat produksi kortisol yang tinggi dapat menyebabkan 30% atau bahkan lebih rambut rontok. Tidak heran, apabila hal ini terus berlanjut selama 3 bulan, maka dapat menyebabkan kebotakan.
2. Demam dan Flu
|
Foto: Ilustrasi/Thinkstock
|
Melihat kepada hasil penelitian dari Universitas Birmingham, saat tubuh diserang stres yang berlebihan maka hal tersebut akan menyebabkan tubuh terinfeksi virus sebanyak 20%. Dan tidak heran apabila Anda terus terjaring flu, akan menyebabkan Anda jatuh sakit setelahnya.
2. Demam dan Flu
|
Foto: Ilustrasi/Thinkstock
|
Melihat kepada hasil penelitian dari Universitas Birmingham, saat tubuh diserang stres yang berlebihan maka hal tersebut akan menyebabkan tubuh terinfeksi virus sebanyak 20%. Dan tidak heran apabila Anda terus terjaring flu, akan menyebabkan Anda jatuh sakit setelahnya.
3. Asma
|
Foto: Ilustrasi/Thinkstock
|
Penemuan terdahulu di Swedia dan Denmark, menemukan hasil bahwa sebanyak 10 persen dari 5 juta anak yang kehilangan orang tuanya akibat kematian, harus dirawat di rumah sakit akibat asma yang tiba-tiba menyerang mereka.
3. Asma
|
Foto: Ilustrasi/Thinkstock
|
Penemuan terdahulu di Swedia dan Denmark, menemukan hasil bahwa sebanyak 10 persen dari 5 juta anak yang kehilangan orang tuanya akibat kematian, harus dirawat di rumah sakit akibat asma yang tiba-tiba menyerang mereka.
4. Darah Tinggi
|
Foto: Ilustrasi/Thinkstock
|
Selain dipengaruhi oleh hormon stres yang meningkat, darah tinggi juga dapat dipengaruhi akibat perubahan gaya hidup setelah kehilangan orang terkasih.
4. Darah Tinggi
|
Foto: Ilustrasi/Thinkstock
|
Selain dipengaruhi oleh hormon stres yang meningkat, darah tinggi juga dapat dipengaruhi akibat perubahan gaya hidup setelah kehilangan orang terkasih.
5. Kanker
|
Foto: Ilustrasi/Thinkstock
|
Penelitian telah menunjukkan bahwa wanita yang mengalami stres akibat patah hati memiliki natural killer cells, sel di dalam sistem imun yang melawan kanker, yang lebih sedikit. Penelitian di Swedia pada tahun 2003 memberikan hasil bahwa wanita yang kehilangan suaminya mempunyai kemungkinan 2 kali lebih besar untuk terkena kanker payudara.
5. Kanker
|
Foto: Ilustrasi/Thinkstock
|
Penelitian telah menunjukkan bahwa wanita yang mengalami stres akibat patah hati memiliki natural killer cells, sel di dalam sistem imun yang melawan kanker, yang lebih sedikit. Penelitian di Swedia pada tahun 2003 memberikan hasil bahwa wanita yang kehilangan suaminya mempunyai kemungkinan 2 kali lebih besar untuk terkena kanker payudara.
6. Penyakit Jantung dan Stroke
|
Foto: Ilustrasi/Thinkstock
|
Di dalam minggu pertama setelah kehilangan orang terkasih, stres akan melanda hingga meningkatkan tekanan darah. Jam tidur dan pola makan, yang seharusnya bisa menjadi salah satu obat untuk mengatasi stres, malah ternggangu sehingga akan semakin menambah risiko terjadinya penyakit jantung hingga stroke.
6. Penyakit Jantung dan Stroke
|
Foto: Ilustrasi/Thinkstock
|
Di dalam minggu pertama setelah kehilangan orang terkasih, stres akan melanda hingga meningkatkan tekanan darah. Jam tidur dan pola makan, yang seharusnya bisa menjadi salah satu obat untuk mengatasi stres, malah ternggangu sehingga akan semakin menambah risiko terjadinya penyakit jantung hingga stroke.
7. Diabetes
|
Foto: Ilustrasi/Thinkstock
|
Ilmuwan percaya bahwa tingkat produksi kortisol yang tinggi akan membahayakan sel di dalam pankreas yang memproduksi insulin, yang seharusnya berfungsi untuk mengontrol gula darah.
Komplikasi yang terjadi dari 2 tipe diabetes ini dapat menjadi serius dalam menyebabkan gangguan pernapasan, penglihatan, penyakit jantung dan ginjal, hingga keguguran.
7. Diabetes
|
Foto: Ilustrasi/Thinkstock
|
Ilmuwan percaya bahwa tingkat produksi kortisol yang tinggi akan membahayakan sel di dalam pankreas yang memproduksi insulin, yang seharusnya berfungsi untuk mengontrol gula darah.
Komplikasi yang terjadi dari 2 tipe diabetes ini dapat menjadi serius dalam menyebabkan gangguan pernapasan, penglihatan, penyakit jantung dan ginjal, hingga keguguran.
Halaman 2 dari 16











































