Senin, 03 Mar 2014 11:01 WIB

Operasi Transplantasi Hati Mahal, Apa Penyebabnya?

- detikHealth
Foto: Ilustrasi/Thinkstock
Bogor - Dibutuhkan biaya yang tidak sedikit untuk melakukan operasi transplantasi hati. Inilah salah satu yang menjadi kendala bagi para pasien yang harus melakukan transplantasi hati. Apa yang membuat operasinya ini sangat mahal?

Menurut Dahlan Iskan, Menteri BUMN Indonesia, operasi transplantasi mahal salah satunya dikarenakan sulitnya mencari pendonor hati yang tepat bagi pasien. Karena harus ada pemeriksaan dahulu terhadap hati yang ingin didonorkan.

"Yang paling mahal itu sebenarnya mencari donor. Dan jika ada seorang keluarga pasien yang bisa mendonorkan hatinya untuk pasien tersebut, maka hal itu akan sedikit membantu," ujar Dahlan saat ditemui pada acara Press Conference Transplantasi Perdana RS Pertamedika Sentul City, di RS Pertamedika, Jl. MH Thamrin, Sentul City-Bogor, dan ditulis pada Senin (3/3/2014).

Selain itu, Dahlan juga menambahkan bahwa ruangan operasi dan ICU yang harus khusus, serta dengan alat-alat yang harus memenuhi syarat dan standar terbaik, juga merupakan alasan mengapa operasi transplantasi hati sangatlah mahal.

Dahlan yang merupakan salah satu liver transplant survivor mengaku membutuhkan biaya sekitar Rp 3,5 miliar untuk melakukan transplantasi hati. Dahlan sendiri melakukan transplantasi hati pada tahun 2007 di China.

Apakah di Indonesia membutuhkan biaya yang sama? Tentunya tidak. Di Indonesia, biaya transplantasi tidak semahal di luar negeri. Meski begitu, biayanya tetap saja tidak bisa dibilang murah. Lantas, berapa biaya yang dibutuhkan?

Dalam kasus Hafidz, bocah 8 tahun yang menjalani transplantasi hati di Rumah Sakit Pertamedika Sentul City (RSPSC), biaya yang sudah dikeluarkan sejauh ini (selesai operasi) mencapai miliaran rupiah. Hal ini disampaikan langsung oleh Ketua Tim Dokter Transplantasi Hati Perdana RSPSC.

"Sejauh perhitungan kami, dari persiapan awal hingga proses operasi ini, biaya yang dikeluarkan mencapai Rp 1,6 miliar," tutur dr Kamelia yang juga merupakan Direktur RSPSC.

Adapun biaya awal yang dimaksud dr Kamelia dimulai dari biaya ayah Hafidz (pendonor) diperiksa saat mau donor, lalu biaya dari banyak pemeriksaan yg dilakukan termasuk hasil biopsi yang dikirim ke Amerika, kebutuhan medis, hingga proses operasi yang sudah dilakukan.

"Kalau di luar negeri, misalnya di RS Singapura yang negeri itu mencapai Rp 2,5 miliar, kalau RS swastanya Rp 3 miliar. Sedangkan di Jepang itu bisa diatas Rp 4 miliar," tambah dr Kamelia.

Biaya yang dikeluarkan tidak berhenti sampai di situ. Pasien transplantasi hati akan terus memerlukan obat yang dikonsumsi dalam jangka panjang. Dan hal ini pun tentu membutuhkan biaya yang berlanjut.

Dengan biaya yang sangat besar, Sugeng Kartika dan Maria Ulfa, kedua orang tua dari Hafidz pun mengaku kesulitan. Beruntung sejauh ini mereka dibantu oleh Yayasan Peduli Hati Indonesia (YPHI) dan pihak-pihak lainnya, seperti pemerintah dan bantuan swasta. Meski begitu, keluarga Hafidz tetap masih memerlukan bantuan untuk membantu biaya selanjutnya yang diperlukan pasca operasi transplantasi hati ini. Ditambah dengan keadaan Sugeng yang sudah tidak bekerja, masalah biaya ini begitu memberatkan ia dan istrinya.

Masalah biaya ini bukan hanya terjadi pada kasus Hafidz. Masih teringat jelas di ingatan, kasus almh. Bilqis dengan koin untuk Bilqis, serta baru-baru ini kasus Aqila, bocah yang terkena atresia billier. Aqila sedang berjuang melawan penyakitnya dan menunggu kapan operasi transplantasi hati bisa dilakukan pada dirinya.

Jika ingin membantu Hafidz dan keluarganya, Anda bisa mendonasikan bantuan Anda ke Yayasan Peduli Hati Indonesia, rekening Bank Mandiri cabang RSCM, a/n YPHI AC dengan nomor rekening 122-00-8999998-4.



(vit/vit)