Erri (50) mengaku sudah dua minggu berhenti merokok. Ia mengatakan bahwa keinginan untuk berhenti merokok muncul ketika mengetahui adanya rokok elektrik yang memiliki berbagai macam rasa ketika dihirup.
"Dulu saya perokok berat. Tapi begitu kenal vapor ini sudah berhenti sama sekali. Sempat merokok lagi sih cuma waktu itu gara-gara vapornya bocor," papar warga Kalibata itu ketika ditemui detikHealth dan ditulis Kamis (6/3/2014).
Jika Erri sudah berhenti merokok secara total, lain halnya dengan Ricky (26). Meski sudah hampir 6 bulan menggunakan vapor, ia terkadang masih menghisap rokok tembakau. Meski begitu, ia mengatakan hal ini sebagai kemajuan.
Jika Erri sudah berhenti merokok secara total, lain halnya dengan Ricky (26). Meski sudah hampir 6 bulan menggunakan vapor, ia terkadang masih menghisap rokok tembakau. Meski begitu, ia mengatakan hal ini sebagai kemajuan.
"Dulu bisa satu sampai satu setengah bungkus sehari. Sekarang satu bungkus isi 20 batang bisa untuk dua minggu," ujar warga cinere tersebut.
Lalu apakah benar jika menggunakan rokok elektrik dapat berhenti dari kecanduan merokok?"Sama saja. Gak ada gunanya itu (rokok elektrik-red)," ujar dr Tribowo Ginting Sp.KJ ketika dihubungi detikHealth tentang pernyataan tersebut.
Menurut dokter dari Klinik Berhenti Merokok di RSUP Persahabatan tersebut, yang menyebabkan orang mengalami kecanduan merokok adalah terpaparnya otak terhadap nikotin. Nikotin diketahui dapat menimbulkan perasaan tenang, santai dan nyaman.
Namun perasaan tersebut akan hilang jika otak yang sudah terkontaminasi nikotin mengalami kekurangan asupan. Akibatnya, orang tersebut akan mengalami rasa gelisah dan akhirnya merokok lahg untuk memenuhi kecanduannya.
"Memang katanya untuk membantu mengatasi kecanduan nikotin. Masalahnya uap yang dihirup dari rokok elektrik itu juga kan tetap mengandung nikotin. Artinya kecanduannya tetap ada," lanjut dokter lulusan Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia tersebut.
Senada dengan hal tersebut, Ketua Dewan Penasihat Komnas Pengendalian Tembakau, dr Kartono Muhammad, kecanduan rokok tidak dapat disembuhkan dengan mengganti rokok tembakau dengan rokok elektrik. Ia mengatakan bahwa pada perokok yang kecanduan nikotin, otak mempunyai kadar nikotin yang harus terpenuhi dalam jangka waktu tertentu.
"Misalnya perokok menghabiskan satu bungkus rokok dengan kandungan nikotin 1 mg per batang. Kalau 20 batang kan 20 mg. Nah otaknya akan melakukan berbagai cara agar kebutuhan nikotin 20 mg tersebut terpenuhi," paparnya ketika dihubungi detikHealth pada kesempatan berbeda.
Pada rokok elektrik, kadar nikotin yang terkandung di dalam cairannya memang lebih kecil daripada rokok tembakau. Namun konsumsi nikotin dalam skala lebih kecil bisa menjadi lebih berbahaya. Hal itu dikarenakan jumlah isapan yang bisa jadi lebih banyak daripada ketika merokok tembakau.
"Satu-satunya cara untuk menghilangkan kecanduan nikotin adalah dengan berhenti secara total. Tidak ada cara lain," pungkas dr Kartono.
(vit/vit)











































