Rolly (55) mengatakan mencoba menggunakan rokok elektrik beberapa hari lalu. Informasi tentang rokok elektrik didapatnya dari keponakannya yang juga sedang mencoba menggunakan rokok elektrik.
"Nggak enak. Rasanya seperti ngemut permen," ujar warga Bogor tersebut.
Sementara itu, Dimas (24) mengatakan bahwa dirinya sempat menggunakan rokok elektrik tersebut beberapa bulan lalu. Ia mengaku menggunakan produk asal China tersebut hanya untuk gaya-gayaan seperti teman-temannya yang lain.
"Jadi untuk gaya-gayaan saja. Sekarang sudah nggak pakai. Rasanya juga gak enak. Mendingan rokok beneran," ujar pria yang bekerja sebagai pegawai swasta tersebut.
Sementara itu, Andes, warga Kalibata City mengatakan sudah hampir 3 bulan berhenti merokok. Pria yang menolak menyebutkan usianya tersebut mengatakan bahwa vaping, kegiatan menghisap rokok elektronik, jauh lebih sehat daripada merokok.
"Saya sudah merokok 19 tahun. Namun sekarang sudah berhenti semenjak pakai vapor ini," ujarnya pada detikHealth seperti ditulis pada Kamis (6/3/2014).
Jakarta Vaping Colony
Tak mengisap vapor sendirian, Andes ternyata bergabung dalam komunitas vaping di Jakarta. Komunitas tersebut bernama Jakarta Vaping Colony. Meski masih baru, Andes mengatakan bahwa Jakarta Vaping Colony adalah komunitas vaping pertama di Indonesia.
"Lahirnya 28 Januari 2014 lalu, dengan anggota 21 orang," ujarnya. Ide membentuk komunitas tersebut berasal dari salah satu teman Andes yang juga penggunan vapor bernama Fabian. Dengan adanya komunitas katanya, akan memudahkan komunikasi dan memberikan informasi kepada para calon vaper atau vaper baru di Jakarta.
Lalu kegiatan apa saja yang biasa dilakukan komunitas tersebut? "Biasanya vape meet, itu istilah untuk vaping bareng, atau saling tukar-menukar informasi tentang perkembangan vapor," lanjut Andes.
Tak hanya itu, Andes menuturkan bahwa pada beberapa anggota yang sudah ahli menggunakan personal vapor, kegiatan merakit sendiri personal vapor pun sering dilakukan. Untuk merakit, komponen-komponen personal vapor tentunya harus dibeli terpisah yang tentunya mempunyai harga yang lebih mahal.
Kristo (36) mengaku baru dua minggu bergabung dengan komunitas ini. Namun dikatakannya ia langsung jatuh cinta dengan kegiatan mengotak-atik vapor miliknya.
"Seru saja. Saya juga sering nge-mix liquid. Udah nyobain 10 rasa cuma belum ada yang pas. Jadi nyoba dicampur-campur saja," papar pria yang bekerja sebagai fotografer lepas tersebut.
Sebagai salah satu penggagas Jakarta Vaping Colony, Andes tentunya punya standar sendiri tentang siapa saja yang boleh menjadi anggota komunitas yang bermarkas di Kalibata tersebut. Menurutnya, siapa saja yang ingin berhenti merokok dengan cara vaping dipersilakan untuk bergabung.
Menurut Andes, cara paling aman menghentikan kecanduan nikotin adalah dengan berhenti merokok secara total. Namun pada sebagian orang yang tidak bisa menghilangkan kecanduan nikotinnya, vaping merupakan alternatif aman.
"Di rokok kan ada 4000 macam racun yang dapat merusak tubuh. Sementara vaping hanya menghirup uap air dengan perasa dan kandungan nikotin yang lebih kecil daripada rokok," pungkas Andes sembari menghirup vapornya.
(vit/vit)











































