Miss V Robek Parah Saat Melahirkan, Seorang Wanita Harus BAB Lewat Vagina

Miss V Robek Parah Saat Melahirkan, Seorang Wanita Harus BAB Lewat Vagina

- detikHealth
Jumat, 07 Mar 2014 07:01 WIB
Miss V Robek Parah Saat Melahirkan, Seorang Wanita Harus BAB Lewat Vagina
Kantung kolostomi (Foto: Independent Online)
Johannesburg - Seorang wanita asal Johannesburg, Afrika Selatan, mengalami robek vagina yang parah saat melahirkan. Dokter diduga tak menjahit jalan lahirnya dengan benar, hingga membuat si wanita harus buang air besar (BAB) lewat vagina.

Kgomotso Dingaan (24) mengalami robek vagina derajat 4 ketika melahirkan dua bulan lalu di Rahima Moosa Mother and Child Hospital, di Coronationville, Johannesburg. Ia mengaku mengalami persalinan yang parah. Detak jantung bayinya lemah sehingga seorang perawat naik ke tempat tidur, menaruh tangannya di perut Dingaan dan menekannya dengan sangat keras, hingga sang jabang bayi keluar.

Saat sedang melakukan penjahitan jalan lahir, perawat menyadari bahwa robekan di vaginanya semakin memburuk dan memanggil dokter. Ia dibawa ke sebuah ruangan dan vaginanya dijahit di sana. Namun, Dingaan yakin dia tidak dijahit dengan baik, karena beberapa hari kemudian kotoran mulai keluar dari vaginanya. Merasa takut, ia pun kembali ke rumah sakit.

"Dokter bilang saya mengalami robekan 10 cm, tetapi hanya 8 cm yang dijahit. Saya harus berada di rumah sakit selama 10 hari dan sementara itu kondisinya begitu buruk, saya harus memakai popok," ujar Kgomotso Dingaan, seperti dikutip detikHealth dari Independent Online, Jumat (7/3/2014).

Robekan parah yang tidak dijahit dengan baik membuat Dingaan mengalami rectovaginal fistula, yaitu koneksi abnormal antara rektum dan vagina. Pembukaan antara rektum dan vagina yang terlalu lebar akan memungkinkan kentut dan feses 'melarikan diri' ke dalam vagina, yang menyebabkan inkontinensia feses.

Dingaan dibawa ke Helen Joseph Hospital, di mana ia dilengkapi dengan kantung kolostomi. Tiga hari setelah kantung kolostomi dipasang, Dingaan menemukan bahwa lukanya mengalami infeksi. Dia kembali ke rumah sakit, di mana dokter mencoba untuk melepas jahitannya. Tapi rasa sakit tak tertahankan membuat Dingaan memintanya untuk berhenti.

"Dia memberi saya antibiotik dan mengatakan kepada saya untuk kembali minggu berikutnya. Tetapi ketika saya datang, dia sudah lupa dengan janji kami, meremehkan dan tidak melakukan apa-apa," tambah Dingaan.

Profesor Eckhart Buchmann, spesialis di Departemen Obstetri dan Ginekologi di Wits, mengatakan robekan vagina derajat 4 adalah robekan yang terjadi dari vagina ke rektum, dan terjadi pada 1 dari 500 kelahiran, yang seharusnya dapat dengan mudah diperbaiki.

Namun, rectovaginal fistula yang 'mengerikan' tidak begitu umum dan biasanya disebabkan oleh jahitan rusak dan suturing (penjahitan rahim), infeksi atau jaringan yang buruk.

"Kita tidak bisa mengendalikan beberapa kasus ini, tetapi jika kita melakukan pekerjaan bedah yang lebih baik, kita akan mencegah kasus seperti ini terjadi," jelas Prof Buchmann.



(mer/vit)

Berita Terkait