Kulit punya beberapa masalah seperti gatal, kering, maupun dermatitis. Nah, apakah orang yang jarang mandi pasti rentan terkena masalah ini? Menurut dokter ahli masalah kulit di University of California San Diego School of Medicine, dr Casey Carlos, jawabannya adalah belum tentu. Dia menegaskan yang terpenting bukanlah seberapa sering seseorang mandi.
"Sulit sekali membuat orang menggunakan sabun hanya pada saat mereka memerlukannya," kata dr Carlos pada TODAY.com dan ditulis detikHealth pada Sabtu (8/3/2014).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dia juga menyarankan agar tidak usah mandi terlalu lama. Jika kedinginan, maka sebaiknya gunakan air yang hangat-hangat kuku, bukan air panas. Segera setelah Anda selesai mandi, segera oleskan pelembab di tubuh.
Beberapa penelitian menyebut mandi menggunakan produk yang berpelembab dapat membersihkan sekaligus melembabkan kulit, sehingga tidak perlu mengoleskan pelembab usai mandi. Namun salah satu risikonya, jika produk tersebut dicampur air dan digunakan untuk berendam maka bisa membuat kamar mandi lebih licin. Sebab pelembabnya menempel di lantai kamar mandi.
dr Carlos menyebut mandi dengan air hangat bisa menjadi semacam terapi bagi mereka yang berkulit kering. Karena air hangat mampu membantu kulit menyerap kelembaban. Cara terbaik adalah dengan berendam selama 10-15 menit, dan setelah itu mengoleskan pelembab di kulit.
American Academy of Dermatology mengatakan anak-anak kecil dan lansia sebenarnya memiliki kebutuhan mandi yang jarang. Sebab kulit anak-anak lebih halus, sedangkan kulit orang tua secara alami memang kering. Tapi jika anak-anak bermain yang kotor-kotor seperti berguling-guling di tanah, atau baru saja berenang di danau dan di laut, maka ingatkan mereka untuk tidak lupa mandi.
(vit/vit)











































