Sabtu, 08 Mar 2014 16:00 WIB

Studi Sebut Positive Thinking Dapat Atasi Nyeri Radang Sendi

- detikHealth
ilustrasi (Foto: Thinkstock) ilustrasi (Foto: Thinkstock)
Jakarta - Radang sendi merupakan salah satu penyakit yang masih berusaha dicari obatnya agar bisa mengobati secara efektif. Berbagai ilmuwan pun melakukan banyak penelitian untuk mengatasi penyakit yang sering menyerang orang pada usia lanjut ini. Seperti baru-baru ini, ilmuwan di Inggris telah menemukan sebuah cara baru lagi yang dianggap mampu mengatasi radang sendi.

Seperti dikutip dari Express UK, Sabtu (8/3/2014), sebuah penelitian dari Arthritis Research UK bersama Universitas Manchester, Inggris, menemukan hasil bahwa ternyata mind deals berupa konseling dan terapi dapat menjadi sebuah meditasi yang cukup efektif dalam mengobati penyakit radang sendi. Para ilmuwan mengungkapkan bahwa konseling dan terapi dalam mind deals ini dapat membantu otak mengurangi penderitaan yang dialami oleh jutaan penderita radang sendi.

Para ilmuwan meneliti bagaimana cara kerja otak mengatasi rasa sakit yang ditimbulkan akibat radang sendi. Dan mereka menyimpulkan bahwa teknik "mindfulness" dapat membuat pasien menjadi lebih baik dibanding menggunakan pereda nyeri yang sebenarnya tidak baik jika terlalu sering digunakan.

"Penelitian ini menunjukkan bagaimana cara kerja otak mengatasi rasa sakit yang ditimbulkan dari radang sendi," tutur Professor Alan Silman, direktur kesehatan Arthritis Research UK.

Professor Anthony Jones, ilmuwan Human Pain Group dari Universitas Manchester mengungkapkan bahwa rasa sakit yang dialami oleh penderita radang sendi selalu dianggap mempengaruhi kerusakan tulang sendi secara langsung. Maka dari itulah ia dan para ilmuwan lainnya ingin melihat apa yang sebenarnya menyebabkan ini.

Dalam penelitian ini, para peneliti menghitung cara otak dalam merespon laser yang ditujukan kepada kulit dari pasien yang terkena radang sendi. Hasilnya didapat bahwa ketika mengantisipasi rasa sakit, sebuah area otak yang disebut insula cortex menambah aktivitas rasa sakit tersebut. Dan ini sesuai dengan apa yang diprediksi, di mana intensitas dan kelanjutan dari rasa sakit yang dirasakan pasien memang berawal dari sini.

"Semua kesakitan ini ada di dalam diri mereka. Itulah dari mana rasa sakit bisa semakin timbul pada akhirnya," ujar Professor Jones.

Untuk mengatasi hal ini, para ilmuwan pun menganggap CBT (cognitive behaviour therapies) dan konseling merupakan alternatif pengobatan yang efektif. Bahkan jauh lebih efektif dibanding mengonsumsi obat pereda nyeri.

"Terapi akan memberikan hasil yang lebih baik, lebih efektif dibanding memberikan pasien obat pereda nyeri. Terapi yang dilakukan adalah seperti terapi yang dilakukan Buddhist, di mana caranya dengan menambah fokus kepada pikiran saat itu melalui teknik meditasi," tutur Professor Jones.

"Pengobatan ini akan mengurangi ketergantungan pasien pada obat pereda nyeri," tambahnya.

(vit/vit)