"Sekarang ini ada kecenderungan kebanggaan kalau menggunakan produk yang mengandung stem cell. Dianggapnya canggih. Kemudian dikembangkan produk stem cell therapy dalam bentuk krim. Ada yang dari apel, anggur. Padahal setahu saya stem cell itu adalah sel hidup," tutur Indra Bachtiar, PhD, peneliti stem cell di Bifarma Adiluhung.
Hal itu disampaikan dia dalam media workshop 'Stem Cell Technology for A Better Life' dan grand launching Regenic, laboratorium stem cell milik anak perusahaan Kalbe di Novotel Hotel, Golf Estate Bogor Raya, Bogor, Jawa Barat, dan ditulis pada Minggu (9/3/2014).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Indra menerangkan stem cell tidak akan ditolak tubuh sebagai benda asing karena belum dewasa. Ini berbeda dengan kasus transplantasi hati di mana ada beberapa kasus tubuh menolak transplantasi tersebut.
"Yang perlu diperhatikan dalam proses kultur dan injeksi stem cell adalah apakah sudah dibuat dengan cara yang benar atau aman. Kedua, apakah cara membuatnya sudah sesuai dengan aturan, dan ketiga, dokter yang menginjeksi apakah sudah mengerti benar soal stem cell. Karena butuh kemampuan tertentu untuj menginjeksikanm terutama yang intraarteri," papar Indra.
(vit/up)











































