Rekomendasi diet rendah lemak itu berasal dari studi tahun 1950 yang mengambinghitamkan lemak jenuh. Dikatakan bahwa lemak jenuh berbahaya untuk kesehatan dan sebaiknya dikurangi. Namun menurut ilmuwan terkemuka di Inggris, anggapan tersebut sebenarnya keliru.
Diet rendah lemak tidak dapat menjauhkan penyakit jantung atau membuat usia lebih panjang. Seperti dilansir Daily Mail dan ditulis pada Minggu (9/3/2014), musuh tubuh sebenarnya adalah gula dan karbohidrat.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Data studi menunjukkan bahwa penyakit yang ditakuti di seluruh dunia seperti penyakit jantung, diabetes, obesitas, atau gangguan pencernaan dipicu oleh tingginya konsumsi karbohidrat atau gula. Penelitian gagal menunjukkan kaitan antara asupan lemak jenuh dengan risiko gangguan jantung.
Menurut DiNicolantonio, diet rendah karbohidrat yang merupakan kebalikan dari diet rendah lemak justru baik untuk keseimbangan kolesterol tubuh. Kombinasi terbaik untuk meningkatkan dan menjaga kesehatan jantung adalah dengan makan lebih sedikit karbohidrat olahan, makanan manis, serta makanan olahan.
Di beberapa negara Barat, diet rendah lemak tidak lagi dianut. Swedia adalah salah satu negara pionir yang menyingkirkan juah-jauh mitos diet rendah lemak. Di negara tersebut, dianjurkan untuk melakukan diet rendah karbohidrat dan tinggi lemak.
Temuan DiNicolantonio didukung oleh Brian Ratcliffe, profesor nutrisi Universitas Robert Gordon di Aberdeen. Meski demikian, gagasan itu juga menuai penolakan dari Tom Sanders, seorang profesor yang merupakan pimpinan divisi diabetes dan ilmu gizi di King’s College London.
Menurut Sanders, saran diet saat ini tetap masuk akal. Saran diet yang dimaksud ialah menghindari daging berlemak, memilih produk susu rendah lemak, membatasi asupan makanan tinggi lemak sekaligus gula seperti kue, biskuit, dan puding, juga memilih makanan yang mengandung lemak tak jenuh seperti kacang-kacangan, ikan, dan minyak nabati.











































