Selasa, 11 Mar 2014 11:36 WIB

Sunat Perempuan Masih Banyak Dilakukan di Somalia

- detikHealth
foto: Daily Mail
Jakarta - Organisasi kesehatan dunia (WHO) melarang segala bentuk Female Genital Mutilation (FGM). Namun ternyata praktek FGM masih terdapat di sebagian wilayah Afrika. Somalia contohnya, merupakan salah satu negara dengan praktek FGM terbanyak di dunia.

Berdasarkan hal itu, UNICEF melakukan kampanye dan edukasi tentang praktek FGM atau sunat perempuan kepada murid-murid Sekolah Menengah Atas di Somaliland, salah satu daerah di Somalia dengan penduduk beragama Islam paling banyak. Tak hanya melalui kampanye dan edukasi di sekolah, UNICEF juga melakukan kegiatan diskusi untuk membahas bahaya sunat perempuan. Hasil yang didapat dari diskusi tersebut cukup mengejutkan.

Hampir hampir seluruh remaja perempuan usia 16 - 19 tahun mendukung penghapusan salah satu tradisi yang mengharuskan alat kelamin mereka dijahit hingga menikah. Tradisi tersebut muncul dengan alasan bahwa seseorang harus menikah dengan wanita perawan, yang dibuktikan dengan dijahitnya vagina hingga hari pernikahan tiba.

"Saya ingin tradisi tersebut dihapus, itu tradisi yang sudah kuno," papar Ikram Ismail (18), salah satu peserta diskusi.

Yang mengejutkan adalah ia tidak menolak praktek pemotongan klitoris dan labia minora pada vagina. Menurutnya, tradisi tersebut tidak harus dihapus karena itu merupakan perbuatan yang benar.

"Semua perempuan berharap untuk bisa menikah. Tradisi kami mengharuskan perempuan yang tidak disunat (memotong klitoris dan labia minora-red) tidak bisa menikah. Jadi saya berpendapat bahwa hal tersebut perbuatan yang benar dan tidak apa-apa dilakukan," tuturnya seperti dikutip dari Daily Mail, Selasa (11/3/2014).

Haydar Nasser, salah satu perwakilan UNICEF yang menyerukan penghapusan sunat perempuan dari tradisi di Somalia mengaku pernah mengadakan dialog dengan pemuka agama di Somalia. Ia bahkan menuturkan bagaimana sejarah sunat perempuan tersebut terjadi. Dikatakannya kepada mereka bahwa mereka bukanlah mengikuti tradisi kebudayaan Islam, melainkan mengikuti kebiasaan kaum kafir mesir 6000 tahun yang lalu.

Namun dialog tersebut nyatanya tidak berguna. Pasalnya, meski banyak yang menganggap praktek penjahitan vagina memang harus dihapus, namun praktek sunat dengan memotong klitoris dan labia minora tidak bisa dihapuskan dengan alasan tradisi agama.

"Tuhan menciptakan manusia sebagai makhluk paling sempurna di dunia. Jadi untuk apa kita memodifikasi tubuh?" papar Nasser.

Di Indonesia, praktek sunat perempuan masih sering didebatkan. Kementerian kesehatan sudah mencabut peraturan yang mengatur tentang proses dan regulasi sunat pada perempuan dengan alasan praktek tersebut bukanlah tindakan medis. Sementara itu, Majeslis Ulama Indonesia mengatakan bahwa sunat perempuan hanya menggores sedikit selaput di atas klitoris dan merupakan perbuatan makrumah atau kemuliaan. Namun hukumnya tidak wajib.

"Jadi pada perempuan tidak wajib. Kalau mau melakukan berarti melakukan kemuliaan atau makrumah. Kalau tidak melakukan ya tidak apa-apa," ujar Wakil Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia, Ma'ruf Amin pada detikHealth beberapa waktu lalu.



(vit/vit)