Berantakan Karena Kecelakaan Motor, Wajah Pria Ini Dipulihkan Printer 3D

Berantakan Karena Kecelakaan Motor, Wajah Pria Ini Dipulihkan Printer 3D

- detikHealth
Jumat, 14 Mar 2014 16:37 WIB
Berantakan Karena Kecelakaan Motor, Wajah Pria Ini Dipulihkan Printer 3D
Stephen Power (Foto: CBS News)
Cardiff - Selama ini teknologi printing 3D hanya digunakan para ilmuwan untuk membuat organ tiruan berbentuk 3 dimensi, yang nantinya dijadikan model dari organ yang sebenarnya. Namun baru-baru ini tim dokter berhasil merekonstruksi wajah seorang korban kecelakaan motor dengan memanfaatkan teknologi ini.

Bagaimana tidak, wajah pria bernama Stephen Power ini berantakan setelah mengalami kecelakaan motor hebat di bulan September 2012. Karena kecelakaan ini, tulang pipi dan rahangnya patah, tengkoraknya retak dan mata kanannya melorot.

Belum lagi, kedua lengan Stephen patah, begitu pun dengan kaki kirinya. Bahkan Stephen sampai harus menjalani transplantasi tulang untuk kakinya agar bisa berjalan kembali.

Beruntung pria berusia 29 tahun tersebut segera mendapat operasi. Dengan bantuan tim dokter bedah plastik, sejumlah cedera di wajah Stephen dapat diperbaiki. Namun dokter enggan memperbaiki pipi kiri dan soket matanya karena mereka khawatir prosedur tersebut akan merusak penglihatan Stephen.

Power sendiri tak kalah cemas dengan kerusakan yang terjadi pada wajahnya. Bila keluar rumah, ia selalu mengenakan kacamata dan topi agar bekas luka di wajahnya tak kelihatan. Saat itulah tim dokter beralih ke teknologi printing 3D.

Tim bedah dari Morristown Hospital, Swansea, Wales pun akhirnya berkolaborasi dengan National Cantre for Product Design and Development Research (PDR) dari Cardiff Metropolitan University untuk mengembalikan wajah Stephen agar kembali simetris dengan menciptakan model 3D wajah pria ini lalu membuat implannya.

Pertama, mereka melakukan scanning 3D pada wajah Stephen dan membuat model wajahnya di komputer agar tim dokter mengetahui di mana mereka harus meletakkan tulang baru atau memperbaiki bagian tertentu dari wajahnya secara akurat. Kemudian mereka mencetak implan berbahan titanium dengan printer yang sama.

"Tanpa teknologi ini Anda harus menebak-nebak apa yang harus dilakukan selama operasi. Tapi teknologi ini membantu kami agar dapat melakukan operasi dengan tepat dan hasil yang didapatkan pasien pun terlihat lebih bagus," terang Dr Adrian Sugar, konsultan bedah maksilofasial yang mengoperasi Stephen, seperti dikutip dari CBS News, Jumat (14/3/2014).

Pria asal Cardiff, Wales itu pun mengaku puas dengan kinerja tim dokter, mengingat parahnya cedera yang dirasakan Stephen karena kecelakaan motor. Namun karena masih berupa terobosan baru, Stephen harus menjalani operasi rekonstruksi dan menunggu hasilnya selama berbulan-bulan.

"Berbekal kesuksesan yang kami lakukan terhadap Stephen, kami berharap suatu saat nanti pasien lain hanya butuh hitungan hari saja untuk bisa merasakan hasilnya," tutupnya.



(lil/vit)

Berita Terkait