Dokter spesialis paru-paru dari RSUP Persahabatan, dr Budhi Antariksa, Ph.D, Sp.P(K) mengatakan bahwa menghirup kabut asap terus menerus dapat menyebabkan efek jangka panjang. Salah satunya adalah bronkitis. Bahkan menurut dr Budhi, bronkitis akibat asap dapat lebih cepat menyerang daripada bronkitis yang menyerang perokok.
"Kalo perokok kan merokok ada intervalnya. Bisa dua atau tiga jam sekali. Sedangkan di Riau kan terpapar asap terus menerus," papar dr Budhi ketika dihubungi detikHealt, Jumat (14/3/2014).
Bronkitis tersebut disebabkan oleh adanya partikel-partikel halus yang masuk ke saluran pernapasan, dan menimbulkan radang. dr Budhi menjelaskan bahwa partikel debu yang berukuran 3-5 mg dapat bahkan dapat menyebabkan bahaya serius, terutama pada pengidap bronkitis tahunan.
Tak hanya bronkitis, pada orang dengan asma atau alergi, adanya kabut asap dapat memperparah gangguan kesehatan yang dialaminya. meski begitu, dr Budhi menegaskan bahwa tidak ada risiko kematian langsung yang diakibatkan oleh kabut asap. Yang harus diwaspadai adalah jika kabut asap tersebut menyerang lansia dan akhirnya menimbulkan bronkitis lama kemudian.
"Memang tidak akan langsung meninggal, namun pada orang dengan usia lanjut, menghirup kabut asap terus menerus dapat menyebakan bronkitis yang menyebabkan kematian," sambung dr Budhi.
Kabut asap yang menyerang Riau sudah berlangsung selama kurang lebih satu bulan. Tak hanya menimbulkan gangguan kesehatan, kabut asap juga mengganggu jalannya transportasi di Riau. Kini upaya pemadaman kebakaran lahan masih dilakukan pemerintah.
(vit/vit)











































