Alasan CAPD Lebih Disarankan Dibanding Cuci Darah Bagi Pasien Gagal Ginjal

Alasan CAPD Lebih Disarankan Dibanding Cuci Darah Bagi Pasien Gagal Ginjal

- detikHealth
Senin, 17 Mar 2014 09:01 WIB
Alasan CAPD Lebih Disarankan Dibanding Cuci Darah Bagi Pasien Gagal Ginjal
Ilustrasi (Foto: thinkstock)
Jakarta - Hemodialisis (HD) atau yang lebih sering disebut dengan cuci darah, merupakan cara penanganan yang paling banyak dilakukan oleh pasien gagal ginjal di Indonesia. Padahal ternyata Continous Ambulatory Peritoneal Dialysis (CAPD) lebih disarankan dibanding cuci darah.

Pernyataan ini diungkapkan langsung oleh dr Tunggul D. Situmorang, SpPD-KGH, dokter spesialis penyakit dalam dan konsultan ginjal di RS Siloam Jakarta. Menurut dr Tunggul, CAPD lebih baik dilakukan dibanding cuci darah.

"Khususnya untuk pasien gagal ginjal pada tahap awal, CAPD itu lebih disarankan dibanding HD," ujar dr. Tunggul saat ditemui pada acara 'Chronic Kidney Disease & Aging' dalam rangka Hari Ginjal Sedunia 2014 di Auditorium Bintang Toedjoe, Pulomas, dan ditulis pada Senin (17/3/2014).

Menurut dr. Tunggul, bila dibandingkan dengan HD, CAPD memiliki beberapa kelebihan. Pertama mengenai biaya yang harus dikeluarkan pasien gagal ginjal. Untuk melakukan CAPD, biayanya akan lebih murah dibanding HD.

Senada dengan dr Tunggul, dr Natalia Erlan, ketua dari Indonesia Kidney Care Club (IKCC). Menurut dokter yang akrab disapa dr Erlan ini, biaya CAPD memang lebih murah dibanding HD.

"Biayanya sekitar 10 hingga 15% lebih murah bila dibandingkan dengan HD," tutur dr Erlan.

Selain dari segi biaya, CAPD juga disebut jauh lebih mudah dan fleksibel digunakan oleh pasien gagal ginjal karena dapat digunakan kapan saja, tidak harus di rumah sakit seperti ketika melakukan HD. Pasien pun bisa melakukannya sendiri, tidak memerlukan bantuan perawat seperti melakukan HD.

Hal ini dibenarkan oleh Monalisa, seorang pasien gagal ginjal yang ditemui pada acara yang sama. Monalisa merupakan pasien gagal ginjal yang lebih memilih CAPD dibanding HD.

"Saya takut melakukan HD, sakit sekali kan soalnya. Makanya itu saya milih CAPD. Saya biasa melakukan CAPD di mana saja, pernah di pesawat, di bus ketika pergi dari acara kantor. Fleksibel sih," ungkap Monalisa.

"Pada CAPD, fungsi ginjal masih ada dan akan bisa dipertahankan lebih lama, jadi lebih alami. Proses CAPD ini juga tidak menganggu jantung. Sedangkan HD kan bisa membuat urin menjadi lebih sedikit, bahkan akan jadi hilang," tambah dr. Tunggul.

Kendati demikian, Ridwan Ong, deputi direktur PT Kalbe Farma menyatakan bahwa alat untuk CAPD ini masih terbatas di Indonesia. Hal ini disebabkan Indonesia belum mampu menciptakan alatnya sendiri, sehingga masih harus impor.

"Mungkin ini juga disebabkan karena kurang sosialisasi CAPD itu sendiri, makanya teknisi Indonesia belum bisa menciptakan alatnya," ujar Ridwan.

(vit/vit)

Berita Terkait