Senin, 17 Mar 2014 15:48 WIB

Bakteri Pemakan Daging Gerogoti Kaki, Lengan, dan Wajah Pria Ini

- detikHealth
Foto: Ilustrasi/Thinkstock
Stockbridge, Inggris - Kedua kaki, lengan, dan sebagian wajah pria ini hilang akibat digerogoti bakteri ganas pemakan daging. Bahkan akibat bakteri itu, pria 34 tahun itu sempat koma selama sepekan.

Adalah Alex Lewis, ayah satu anak yang harus berjuang menghadapi serangan bakteri pemakan daging di tubuhnya. Bakteri itu menginfeksi darah dan mematikan tubuhnya. Alhasil dia merelakan kedua kaki dan lengan kirinya diamputasi setelah kaki, jari, lengan, bibir, hidung, dan sebagian telinganya menghitam.

Petugas medis mendiagnosis darah Alex terinfeksi streptokokus Grup A. Dalam kasus Alex, akibat infeksi bakteri itu berkembang menjadi septicemia dan toxic shock syndrome. Dokter bahkan sempat memperingatkan ia hanya memiliki tiga persen peluang untuk bertahan hidup. Demikian dikutip dari Mirror, Senin (17/3/2014). Septicemia adalah kondisi di mana dalam darah terdapat bakteri dan sering dikaitkan dengan penyakit berat.

Dalam kondisi masih terbaring di RS, Alex menuturkan suatu hari dirinya merasa tidak enak badan saat akan pergi tidur lebih cepat. Dia bangun pada pukul 02.00 dini hari karena merasa ingin buang air kecil. Betapa terkejutnya dia saat melihat ada darah yang mengalir bersama urinenya. Tak cuma itu, kulitnya pun berubah ungu dan matanya melebar. Alex pun buru-buru dilarikan ke RS.

Petugas RS menyebut tidak bisa berbuat banyak untuk Lewis. Namun untunglah pria itu bisa bertahan, meskipun kehilangan kedua kaki dan sebelah lengannya. Meski demikian dia berharap suatu hari nanti bisa berjalan lagi dengan kaki palsu.

"Meskipun dengan cara yang aneh, tapi ini adalah hal yang paling menakjubkan yang saya lalui dalam hidup," ujar pria asal Stockbridge, Hants, ini.

Dengan apa yang telah dihadapi dan dilalui, Alex merasa bersyukur. Bahwa dalam hidup, ujian itu pasti datang. Namun untunglah dia dan keluarganya memiliki kekuatan untuk melewati semua ujian itu.

"Anda harus membuat yang terbaik dari situasi yang dihadapi, menyadari apa yang Anda punya dan bukan apa yang Anda tidak punya," sambung dia.

Lucy Townsend, kekasihnya, pernah diwanti-wanti oleh petugas medis, bahwa dia bisa saja kehilangan Alex pada November silam. Perempuan yang berusia awal 40-an ini mengatakan semua organ internal Alex memburuk sehingga dilakukan dialisis. Mulanya ginjalnya yang mengindikasikan pemburukan, lalu diikuti paru-paru dan jantungnya.

"Mereka membawa saya ke sebuah ruangan dan mengatakan kepada saya cuma ada kesempatan tiga persen baginya untuk bertahan hidup," kata Lucy.

Petugas RS mengatakan jika malam itu Alex bisa bertahan, maka dia beruntung. Kenyataannya, Alex memang bertahan.

Mulanya Alex dirawat di Royal County Hospital, di Winchester, Hants. Namun kemudian dia dipindahkan ke Salisbury District Hospital, Wilts. Saat itu pula dilakukan amputasi sebagai satu-satunya jalan untuk menyelamatkan hidup Alex.

Ahli bedah lantas memotong tiga anggota tubuh Alex dan mengambil otot dari punggungnya untuk membangun kembali lengan kanannya yang mati dalam serangkaian operasi melelahkan. Selanjutnya, Alex akan dipindahkan ke unit spesialis, di mana dirinya bisa mendapat kaki palsu dan menjalani rehabilitasi.

"Saya tidak menggunakan jari-jari saya, tapi tendon dan otot diharapkan bisa kembali bekerja," harap Alex.

Menurut Alex, reaksi Sam, putranya yang berusia 3 tahun, saat melihat dirinya lebih buruk ketimbang bekas operasi yang didapatkannya. Menurut Alex, mulanya Sam mengira ada cokelat di wajah ayahnya. Namun saat tahu bahwa Alex kehilangan bibirnya, dia menolak untuk dekat-dekat dengan Alex. Namun untunglah Sam akhirnya terbiasa dengan kondisi sang ayah.

"Hidup saya tidak sama lagi, dan kehidupan keluarga saya juga tidak akan sama lagi. Tapi saya merasa beruntung," tutur Alex.

Dia merasa beruntung masih memiliki kesempatan untuk hidup. "Memiliki kesempatan untuk berjalan-jalan dengan anjing dan anak saya di pedesaan. Sesederhana itu, sama seperti yang dulu saya lakukan. Itu luar biasa sekali," tambah Alex yang kini lebih menghargai hidupnya.

Infeksi streptokokus Grup A invasif yang serius jarang terjadi di Inggris. Angka penderitanya hanya sekitar satu dari setiap 33.000 orang dalam setahun. Jika terkena infeksi ini, biasanya diobati dengan suntikan antibiotik selama tujuh sampai 10 hari. Dalam beberapa kasus, pembedahan mungkin diperlukan untuk mengangkat atau memperbaiki jaringan yang rusak.



(vit/up)