Dr James R. Cerhan dari Mayo Clinic di Rochester, Minnesota, telah menganalisis 11 studi berbeda yang melibatkan lebih dari 650.000 partisipan dewasa. Para partisipan dalam studi sejak Januari 1986 hingga Desember 2000 tersebut berusia 20 dan 83 tahun.
Para partisipan dipantau rata-rata selama sembilan tahun, dan selama masa itu, sebanyak 78.268 partisipan meninggal. Setetelah melakukan analisis, peneliti menemukan adanya kaitan antara kematian mereka dengan ukuran lingkar pinggang.
Pria dengan lingkar pinggang 109 cm atau lebih, memiliki risiko kematian 50% lebih tinggi dibanding pria berlingkar pinggang di bawah 89 cm. Sedang para wanita, mereka yang berlingkar pinggang lebih dari 94 cm memiliki risiko kematian 80% lebih tinggi dibanding wanita yang berlingkar pinggang di bawah 68 cm.
Tim Dr. Cerhan juga menemukan bahwa setiap kenaikan ukuran lingkar pinggang sebesar 5 sentimeter, maka risiko kematian meningkat sekitar 7% pada pria dan sebesar 9% pada wanita.
Yang kurang menyenangkan, bobot normal tidak akan menghindarkan seseorang dari risiko kematian itu. Baik berbobot normal maupun obesitas, ukuran pinggang yang lebih lebar sama-sama memperbesar risiko kematian.
"Sasaran utama kami adalah untuk mencegah keduanya, baik Indeks Massa Tubuh yang tinggi maupun lingkar pinggang yang lebar. Bagi pasien berpinggang lebar, memperkecil ukuran melalui olahraga dan diet, beberapa inchi pun, akan bermanfaat penting bagi kesehatan." Demikian pungkas Dr Cerhan, seperti dikutip dari Huffington Post, Kamis (20/3/2014).
(vit/vit)











































