Tekan Infeksi di RS, Dokter dan Perawat Didorong Cuci Tangan dengan Benar

Tekan Infeksi di RS, Dokter dan Perawat Didorong Cuci Tangan dengan Benar

- detikHealth
Jumat, 21 Mar 2014 08:02 WIB
Tekan Infeksi di RS, Dokter dan Perawat Didorong Cuci Tangan dengan Benar
Ilustrasi (Foto: thinkstock)
Jakarta - Budaya cuci tangan adalah budaya yang masih terus digalakkan di seluruh dunia. Di Indonesia sendiri, budaya cuci tangan sudah digalakkan kembali sejak 5 tahun lalu. Namun harus diakui bahwa masih banyak orang yang malas untuk cuci tangan, terutama adalah orang-orang yang rendah kepeduliannya terhadap kebersihan lingkungan.

Lantas, bagaimana dengan pekerja di rumah sakit? Rumah sakit dikenal sebagai tempat yang terjaga kebersihannya. Walau nyatanya hal tersebut bukanlah jaminan. Ini dikarenakan dengan fakta bahwa rumah sakit bisa menularkan infeksi kepada siapa saja yang ada di sana. Terkait infeksi ini, atau yang disebut dengan infeksi nokosomial, Kementerian Kesehatan RI dan Perhimpunan Rumah Sakit Seluruh Indonesia (PERSI) mewajibkan setiap rumah sakit untuk menjalankan program pencegahan dan pengendalian infeksi (PPI), di mana salah satunya dilakukan dengan menjaga kebersihan tangan yang disebut dapat mencegah penularan infeksi sebesar 85 persen.

Menurut Dr. dr. Sutoto, M.Kes, ketua umum pengurus pusat Perhimpunan Rumah Sakit Seluruh Indonesia (PERSI), kebersihan tangan bisa dilakukan melalui perilaku cuci tangan yang dilakukan dengan tepat dan benar. Ada 6 langkah cuci tangan yang benar, di mana harus dilakukan pada 5 kondisi yang tepat oleh para pekerja rumah sakit, khususnya dokter dan perawat.

"Ada 5 kondisi di mana dokter dan perawat, harus mencuci tangan mereka dengan benar. Yang pertama adalah ketika sebelum menangani pasien. Lalu berikutnya sebelum melakukan tindakan medis, seperti memasang infus. Lalu setelah menangani dan cairan tubuh pasien. Dan berikutnya setelah menyentuh sekitar lokasi perawatan pasien dan setelah membersihkan peralatan medis," tutur dr Sutoto saat ditemui pada acara Hospital Symposium 'Peranan Akreditasi Rumah Sakit Dalam Menurunkan Infeksi Terkait Pelayanan Kesehatan' yang dilangsungkan di Hotel Mulia, Jl. Asia Afrika Senayan, Jakarta Selatan, dan ditulis pada Jumat (21/3/2014).

Namun ternyata, tidak semua orang melakukan anjuran seperti ini. Hal ini dibuktikan dengan penelitian yang menunjukkan bahwa dokter merupakan yang paling rendah kepatuhannya dalam mencuci tangan. Data statistik penelitian menunjukkan bahwa kepatuhan dokter dalam mencuci tangan hanya sebesar 41%, disusul dengan kepatuhan mahasiswa kedokteran yang bertugas di rumah sakit yang hanya sebesar 42%. Perawat dan staf pekerja rumah sakit lainnya justru lebih baik nilai kepatuhannya dalam mencuci tangan, di mana statistik menunjukkan angka sebesar 57% untuk perawat, dan 62% untuk staf pekerja lainnya. Hal ini cukup mengejutkan, di mana padahal selama ini orang mengira dokter adalah orang yang paling tegas menjaga kebersihan.

Mengapa hal ini bisa terjadi? dr Sutoto menjelaskan bahwa ini kembali kepada individual orang-orang tersebut. "Kepatuhan seseorang itu kan up and down, kadang patuh, kadang tidak. Ini lebih kepada individu mereka masing-masing," tuturnya.

Dr. Anis Kurniawati, PhD, Sp.MK, Kepala Laboratorium Mikrobiologi Klinik Fakultas Kedokteran Univesitas Indonesia, mengungkapkan bahwa terdapat beberapa faktor yang mempengaruhi kepatuhan individu dalam mencuci tangan.

"Masih ada persepsi yang menyatakan bahwa cuci tangan itu menyebabkan kulit kering dan iritasi. Terus juga ada yang alasannya sibuk, jadi tidak sempat cuci tangan, misalnya dalam keadaan pasien yang emergensi. Itu kan yang biasanya terjadi," ungkap Anis.

Kurangnya motivasi dan role model dalam kepatuhan juga disebut Dr. Anis sebagai faktor lainnya yang mempengaruhi. Untuk itulah, diharapkan bagi setiap individu untuk saling mengingatkan satu sama lain sehingga tidak ada lagi alasan-alasan yang membuat orang lupa atau malas cuci tangan.

"Jadikanlah cuci tangan sebagai budaya. Jika tidak disosialisasikan dengan baik, lantas gimana mau bisa menjadi kebiasaan kan?" ujar dr Supriyantoro, Sp.P, MARS, sekretaris Kementerian Kesehatan RI.

(vit/vit)

Berita Terkait