Namun seorang pakar bernama Dr Reef Karim, pendiri The Control Center, Beverly Hills yang memiliki spesialisasi menangani pasien dengan gangguan perilaku menulis sebuah paper tentang sejumlah perilaku paling adiktif berdasarkan bukti-bukti ilmiah yang ada. Tulisan ini dipublikasikan dalam Journal of Psychoactive Drug di tahun 2012.
Apakah perilaku yang dimaksud? Simak paparan tentang perilaku paling adiktif tersebut, seperti halnya dikutip detikHealth dari Huffingtonpost, Jumat (21/3/2014) berikut ini.
1. Makan kompulsif
Ada sejumlah gangguan kompulsif yang berkaitan dengan pola makan seperti anoreksi dan bulimia. Namun yang bentuknya paling mendekati kecanduan obat-obatan adalah binge eating, di mana penderitanya banyak menghabiskan waktu untuk merencanakan makan dan sekalinya makan mereka sanggup mengonsumsi makanan dalam jumlah besar, meskipun sudah kenyang.
Wajar jika makanan bisa jadi sumber adiksi karena makanan dengan rasa tertentu, terutama yang tinggi gula dan lemak dapat mengaktifkan bagian otak pusat reward yang 'haus' dopamine sama halnya dengan yang dilakukan obat-obatan.
2. Internet
Kecanduan internet atau 'internet gaming disorder' sebenarnya baru saja resmi diakui sebagai salah satu jenis kecanduan oleh para pakar, namun perilaku ini masih perlu diteliti lagi. Pasalnya sebagian besar pria Asia yang kecanduan internet menjadi begitu asyik dengan mainannya tersebut hingga mereka berhenti makan, bunuh diri atau mengabaikan keluarganya karena itu.
Menurut sebuah studi dari International Gaming Research Unit di tahun 2013, kecanduan video games dapat dikaitkan dengan kondisi yang disebut 'lupa waktu (time loss), sensasi di mana seseorang merasa baru duduk dan bermain selama satu jam ternyata tak menyadari jika ia telah bermain semalaman. Studi lain mengungkapkan, game yang paling sering mengakibatkan hal ini adalah World of Warcraft.
3. Judi
Sama halnya dengan kecanduan internet, kecanduan judi juga baru-baru ini dimasukkan ke dalam salah satu jenis adiksi baru oleh Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders (DSM-5). Hal ini karena penelitian telah membuktikan kecanduan judi memiliki mekanisme otak yang sama dengan kecanduan narkoba.
Misalnya, pecandu judi kerap dilaporkan mengalami 'high' ketika menang dalam sebuah permainan. Mereka juga mengalami gejala penarikan seperti insomnia, sakit kepala, gangguan perut, selera makan hilang, jantung berdebar-debar dan berkeringat bila tak segera diajak berjudi.
Lebih buruk lagi, sebuah studi mengungkap partisipan yang juga pecandu judi terlihat mengalami penurunan aktivitas di ventromedial prefrontal cortex (vmPFC) pada otaknya saat menonton sebuah video judi. Padahal vmPFC ini adalah bagian otak yang berfungsi dalam pengaturan emosi dan manajemen risiko.
4. Seks
Meski mendapat banyak sorotan, kecanduan seks jarang dipelajari. Namun masalahnya sulit untuk menentukan penyebab patologis yang membuat seks jadi perilaku abnormal.
Sebuah studi dari Swedia di tahun 2006 mengatakan yang menjadi masalah bukan frekuensinya tapi orang-orang yang melakukan aktivitas berbau seksual tapi tidak dilakukan dengan pasangannya, seperti menonton konten porno, prostitusi atau eksibisionisme. Sebagian besar juga difasilitasi oleh internet dan kurangnya bersosialisasi.
Sejumlah studi tentang kondisi psikologis orang yang mencari bantuan medis karena gangguan hiperseksual mengungkapkan mereka cenderung kekurangan kontrol impuls, tak dapat membedakan mana yang baik dan buruk, serta kurang mampu mengatur emosi.
5. Belanja
Meski para pakar juga masih bingung membedakan perilaku belanja biasa dengan yang kompulsif, namun diperkirakan 2-8 persen populasi di Amerika mengalaminya.
Kebanyakan orang berasumsi hanya wanita yang bisa yang mengalaminya, akan tetapi sebuah studi dari Stanford University di tahun 2006 mengungkap jika pria pun bisa terserang kecanduan belanja, dengan persentase sama besarnya dengan wanita. Bahkan sejumlah pakar percaya kecanduan ini ada kaitannya dengan gangguan menimbun barang (hoarding).
Peneliti juga belum tahu bagian otak mana yang memicu kecanduan ini. Hanya saja mereka mengantongi bukti bahwa pusat reward-lah yang berada di balik hal ini. Jadi gejalanya sama dengan yang terjadi pada para pecandu narkoba.










































