Para peneliti dari Swedia melakukan riset pada lebih dari 19.000 wanita dengan rata-rata usia 56 tahun. Para ilmuwan tersebut melakukan penyidikan untuk mendapat data seputar kesehatan dan kebiasaan partisipan, termasuk kebiasaan olahraga. Tiga belas tahun kemudian, kesehatan para partisipan kembali diperiksa.
Saat itu sekitar 900 partisipan telah terdiagnosis kanker payudara. Dari analisa disimpulkan bahwa penyakit mereka, sangat jelas, berhubungan dengan jumlah aktivitas fisik yang dilakukan.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Oleh karena itu wanita yang bertubuh langsing tak boleh terlena atau berpuas diri. Sebab risiko kanker payudara tidak melulu berkaitan dengan bobot atau obesitas, tetapi juga kondisi dan aktivitas tubuh.
"Anda dapat mengurangi risiko kanker payudara dengan aktif secara fisik, meski Anda berbobot normal," tutur Trolle Lagerros dokter spesialis obesitas di Karolinska Institute, Stockholm, sebagaimana dikutip dari Daily Mail, Minggu (23/3/2014).
Menurut Trolle Lagerros, olahraga yang ia maksud bukan sekadar fitnes saja. Aktivitas sehari-hari seperti membawa keranjang belanjaan ke rumah, bermain dengan anak-anak, atau berkebun, juga terhitung sebagai olahraga. Pesannya, tidak ada kata terlambat untuk mulai hidup aktif.
Kendati demikian, bobot tubuh masih merupakan faktor penting. Obesitas terbukti tetap meningkatkan risiko kanker payudara meski wanita aktif berolahraga. Golongan yang paling rentan terserang kanker payudara adalah mereka yang obesitas sekaligus tidak aktif berolahraga. Risiko itu dua kali lipat dibanding wanita yang ramping sekaligus aktif.
(vit/vit)











































