Ya, sang suami memberinya alat rajut dan benang pasca Sarah didiagnosa mengalami post-traumatic stress disorder dan kecemasan yang parah. Awalnya ragu, tapi lama kelamaan Sarah bisa berfokus pada kegiatan barunya.
"Merajut terlihat konyol tapi setelah aku serius melakukannya aku tak menyadari lagi kalau aku sudah tidak terlalu fokus pada masa depan dan membayangkan bencana yang akan terjadi pada orang yang kucintai seperti saat kakakku meninggal dunia," kisah Sarah seperti dikutip dari CNN, Senin (31/3/2014).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Bahkan, baru-baru ini ahli saraf melihat bagaimana kegiatan kognitif seperti mengisi teka-teki silang sama kompleksya dengan kegiatan merajut. Dikatakan psikolog Mihaly Csikszentmihalyi, ketika serius mengerjakan sesuatu, seseorang bisa melupakan sejenak masalahnya dan merasa bahwa hidupnya lebih lengkap.
"Sistem saraf kita hanya mampu memproses sejumlah informasi pada satu waktu. Itu sebabnya mengapa kita sering tidak paham jika dua orang berbicara sekaligus pada kita. Jadi, ketika kita sibuk melakukan sebuah aktivitas, kita cenderung bisa mengabaikan hal-hal di sekitar kita," jelas Csikszentmihalyi.
Efek dari kegiatan ini sama dengan meditasi yang dikenal mampu melawan stres dan peradangan. Sebab, gerakan berulang seperti merajut bisa mengaktifkan sistem saraf parasimpatis yang menenangkan saat seseorang melakukan respons fight or flight, demikian dikatakan terapis okupasi Victoris Schindler.
Oleh karena itu, Schlinder menyarankan orang-orang untuk melakukan kegiatan seperti menggambar atau melukis guna mengatur emosi dan mencegah pikiran irasional. "Sebab, pusat reward di otak akan melepaskan dopamin yang bisa meredam stres dan emosi saat kita melakukan sesuatu yang menyenangkan," kata Schindler.
(rdn/vit)











































