Kembangkan Vaksin DBD, Indonesia Libatkan 2.000 Anak di 3 Kota

Kembangkan Vaksin DBD, Indonesia Libatkan 2.000 Anak di 3 Kota

- detikHealth
Senin, 07 Apr 2014 19:15 WIB
Kembangkan Vaksin DBD, Indonesia Libatkan 2.000 Anak di 3 Kota
Ilustrasi (Foto: Thinkstock)
Jakarta - Salah satu penyebab masih tingginya angka kejadian Demam Berdarah Dengue (DBD) di dunia, termasuk Indonesia adalah belum tersedianya vaksin DBD. Oleh karena itu, saat ini tengah dikembangkan vaksin DBD di lima negara yaitu Vietnam, Thailand, Filipina, Malaysia, dan Indonesia.

Menurut Prof Dr dr Sri Rezeki S Hadinegoro SpA(K) dari Departemen Ilmu Kesehatan Anak FKUI/RSCM yang ikut andil dalam uji vaksin ini, di Indonesia ada sekitar 2.000 anak dari tiga kota yang ikut dalam program ini.

Mereka adalah anak usia dua sampai 14 tahun yang tinggal di Jakarta, Denpasar, dan Bandung. Sekitar 800 anak berasal dari Jakarta dan Bandung, sedangkan 400 anak dari Denpasar. Di Jakarta, uji vaksin dilakukan di lima wilayah yaitu Tambora, Senen, Jatinegara, Koja, dan pasar Minggu. Uji vaksin ini akan berlangsung dari tahun 2011 sampai 2017.

"Pastinya anak yang terlibat dalam uji coba ini sudah mendapat izin dari orang tua. Ada prosedurnya nanti kita tawarkan formulir kalau orang tua dan anaknya bersedia bisa datang ke puskesmas untuk mendapatkan informed consent," terang Prof Sri di Kantor Kemenkes, Jl.HR Rasuna Said, Kuningan, Jakarta Selatan, Senin (7/4/2014).

Pemberian vaksin dilakukan tiga kali dengan jeda waktu enam bulan. Saat ini, dikatakan Prof Sri anak-anak yang divaksin sedang dalam masa surveillance yakni dipantau terus bagaimana kondisi kesehatan anak yang divaksin dan tidak divaksin. Pemantauan dilakukan dengan cara aktif atau pasif.

Cara aktif yakni pihak penyelenggara yang memantau kesehatan anak tiap minggu, semisal si anak tidak masuk sekolah pun ditanyai apa penyebabnya. Sedangkan, cara pasif, orang tua yang harus melaporkan kondisi kesehatan anaknya setiap sebulan sekali.

"Virus dengue kan ada empat jenis, cikal bakal vaksin ini tiga kita ambil dari Thailand, satu dari Indonesia. Sampai saat ini relatif aman ya vaksinnya, paling anak hanya pegal atau bengkak sedikit di bagian yang disuntik. Tapi kalau sampai panas tinggi gitu nggak," terang Prof Sri.

Meski begitu, ada anak yang drop out ikut uji coba ini tapi bukan karena faktor kesehatannya. Misalnya, mereka ada yang pindah tempat tinggal atau tidak mau diambil darah karena untuk mendapat antibodi 'peserta' uji vaksin ini harus diambil lewat darah.

"Cuma dikit yang drop out. Justru kebanyakan mereka itu senang karena kesehatannya kan kita pantau. Kalau sakit ke puskesmas gitu gratis, nggak ngantre," kata Prof Sri.

(rdn/vit)

Berita Terkait