Baca Label Makanan Sebelum Mengonsumsi Bisa Hindarkan Diri dari Kematian

Baca Label Makanan Sebelum Mengonsumsi Bisa Hindarkan Diri dari Kematian

- detikHealth
Rabu, 09 Apr 2014 11:32 WIB
Baca Label Makanan Sebelum Mengonsumsi Bisa Hindarkan Diri dari Kematian
Foto: Ilustrasi/Thinkstock
Semarang - Angka kematian akibat penyakit tidak menular (PTM) seperti sakit jantung, hipertensi, kanker, dan diabetes melitus di Indonesia meningkat setiap tahunnya. Banyak hal yang bisa dilakukan untuk mencegah penyakit tersebut, salah satunya membaca label produk pangan olahan.

Deputi Bidang Pengawasan Keamanan Pangan dan Bahan Berbahaya Badan POM, Yusra Egayanti mengatakan pelabelan juga merupakan pencegahan PTM. Salah satu hal yang penting untuk dilihat dalam label makanan adalah informasi nilai gizi.

"Tidak hanya harga yang diperhatikan, tapi label nilai gizi juga. Selain itu nama produk, ukuran kemasan, nomor pendaftaran, dan komposisi," kata Egayanti usai acara edukasi Cermati Konsumsi Gula, Garam, Lemak dan Baca Label Kemasan, di Crown Hotel, Semarang, dan ditulis pada Rabu (9/4/2014).

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Direktur Pengendalian Penyakit Tidak Menular Ditjen PP dan PL Kementerian Kesehatan RI, Ekowati Rahajeng juga menyampaikan dengan membaca label kemasan masyarakat bisa mengatur konsumsi kalori yang perharinya 2.000 kkal untuk orang dewasa.

"Dilabelnya juga disertai pesan kesehatan, misal kalori yang lebih dari 2.000 kkal beresiko jantung. Jadi masyarakat bisa tahu, 'oh, saya sudah mengkonsumsi kalori segini jadi baik tidak'," ujar Ekowati.

Dari data survei kesehatan rumah tangga dan riset kesehatan dasar 2007, angka kematian akibat PTM dari tahun 2001 hingga 2007 meningkat yaitu dari 49,9% menjadi 59,9%. Jenis penyakitnya adalah hipertensi 31,7%, penyakit jantung 7,2%, kanker/tumor 4,3% dan diabetes melitus 1,1%.

Untuk mengurangi angka tersebut, Kementerian Kesehatan RI memberikan anjuran yaitu batas konsumsi gule per hari adalah 50 gram setara 4 sendok makan, kemudian garam 2.000 mm natrium/sodium setara 5 gram atau 1 sendok teh, sedangkan untuk konsumsi lemak, jumlah yang aman dikonsumsi adalah 67 gram setara 5 sendok makan minyak per hari.

Selama ini masyarakat hanya memperhatikan label makanan kemasan ada label halal, waktu kadaluarsa, nama produk, dan komposisi makanan. Padahal informasi nilai gizi yang berada di label kemasan sangat penting. Akibatnya, 24,5% penduduk Indonesia mengkonsumsi garam berlebih, 12,8% mengkonsumsi lemak berlebih, kemudian 5,7% terlalu banyak konsumsi gula, dan 64,7% berlebihan mengkonsumsi lemak.

Kepala Divisi Advokasi dan Kemitraan Pusat Promosi Kesehatan, Kementrian Kesehatan RI, Nana Mulyana menambahkan, selama ini meski banyak yang mencantumkan label nilai gizi pada makanan kemasan, namun untuk makanan cepat saji tidak dicantumkan, padahal kandungan pada makanan cepat saji jika terlalu banyak juga tidak baik bagi kesehatan.

"Rencananya tahun 2016 label akan menempel di kemasan (makanan cepat saji)," tegas Nana Mulyana.

Ekowati menjelaskan saat ini Kementerian Kesehatan sedang meneliti sumber makanan beresiko dan nantinya akan ditentukan siapa yang diwajibkan memasang label.

"Tahun ini KJementerian Kesehatan sedang meneliti sumber makanan berisiko. Kita akan cari mana yang wajib. Yang siap saji ada batasan, minimal punya 250 gerai, dengan asumsi punya cabang dan banyak yang konsumsi," jelasnya.

Risiko masyarakat Indonesia terkena PTM semakin tinggi karena berubahnya pola hidup diantaranya anak-anak yang dulu bermain dengan banyak bergerak, saat ini anak-anak lebih memilih bermain di depan gadget, kemudian orang lebih suka naik alat transportasi daripada berjalan, bahkan jika kehidupan ekonominya baik, maka risikonya besar karena sering mengonsumsi makanan cepat saji.

(alg/vit)

Berita Terkait