Data dari Survei Demografi dan Kesehatan Indonesia (SDKI) menunjukkan bahwa AKI di Indonesia mengalami peningkatan yang cukup signifikan dalam kurun waktu 5 tahun, yaitu sebesar 228 per 100 ribu kelahiran hidup pada tahun 2007, melonjak menjadi 359 per 100 ribu kelahiran hidup pada tahun 2012. Kenaikan angka ini menjadi PR besar bagi Indonesia, karena sesuai MDGs (Millennium Development Goals) Indonesia menargetkan AKI bisa turun mencapai 102 per 100 ribu kelahiran hidup pada tahun 2015.
"Target MDGs menurut saya di luar dari konteks kemampuan kita. Kalau kita lihat dari angkanya, kita diharapkan dapat menurunkan ke angka 102 per 100 ribu persalinan hidup pada tahun 2015. Tinggal setahun lagi," jelas dr Ivan R. Sini, MD FRANZCOG, GDRM, SpOG, Ketua Indonesian Reproductive Science Indonesia (IRSI), saat ditemui di RSU Bunda, Menteng, Jakarta, Kamis (10/4/2014).
Dengan angka tersebut, menurut dr Ivan hampir 1 per 200 ibu hamil berisiko meninggal karena komplikasi berat saat kehamilan dan persalinan. Untuk dapat mempercepat penurunan AKI, dr Ivan pun mengatakan teknologi inovatif bisa membantu.
Royal Philips bekerja sama dengan Bunda Medik Healthcare System menciptakan sebuah aplikasi yang diharap mampu membantu Indonesia untuk menurunkan AKI. Mobile Obstetrical Monitoring (MoM) adalah nama dari aplikasi ini. MoM merupakan sebuah aplikasi yang dapat digunakan para bidan untuk membuat profil kesehatan ibu hamil yang relevan melalui pengumpulan data yang didapat dari pemeriksaan fisik serta tes yang dilakukan di Puskesmas atau di rumah pasien tersebut.
"Hampir semua orang punya handphone. Inilah yang kita lakukan, untuk mengurangi ketergantungan dengan sedikitnya jumlah dokter spesialis di daerah," ujar dr Ivan.
Kini program MoM tengah berjalan dan menjadi pilot project di Kotamadya Padang. Proyek ini melibatkan 6 Puskesmas dan menargetkan 900 ibu hamil selama satu tahun sejak dimulai pada 9 Desember 2013.
Mekanismenya, pasien datang ke Puskesmas, registrasi ke bidan, lalu datanya bisa langsung di-upload di pusat data di RS Citra BMC Padang, dan dokter spesialis kebidanan bisa langsung meng-update data tersebut di manapun ia berada dengan menggunakan aplikasi MoM di handphone. Dengan data yang telah diperoleh bidan, dokter dapat mendeteksi bahwa kehamilan yang dialami ibu hamil berisiko tinggi atau tidak, sehingga dapat segera diambil tindakan.
Dalam program ini, bidan memonitor tensi, berat badan, detak jantung janin, pertumbuhan, dan lain-lain. Sedangkan dokter spesialis kandungan dapat memonitor dari jarak jauh dengan laptop atau smartphone. MoM membuat pasien merasa dekat dengan bidan dan dokter, dan dokter dapat merasa pasien termonitor dengan baik.
"Dokter hanya pendamping, tidak ada intervensi. Dengan proyek ini, hasilnya awareness kunjungan pasien di trimester pertama naik 17 persen, kehamilan risiko tinggi yang terdeteksi di trimester pertama juga meningkat 13 persen. Karena sebelumnya banyak pasien yang baru datang ke dokter setelah usia kehamilan 6 bulan," tutur dr Ivan.
(mer/vit)











































