Ya, Belanda merupakan salah satu negara maju yang telah mengimplementasikan asuransi kesehatan nasional sejak beberapa dekade silam. Di Negeri Kincir Angin tersebut sistem rujukan dan pelayanan kesehatan primer sudah terlaksana dengan baik.
Tak hanya itu, pelayanan kedokteran keluarga atau family doctor juga telah berjalan dengan baik. Efek positifnya, seluruh masyarakat Belanda menerima pelayanan kesehatan yang efektif dan efisien.
"Di negeri kami setiap warga diberi kebebasan untuk memilih dokter keluarga masing-masing. Jika terjadi sesuatu hal terkait dengan kesehatannya, mereka bisa langsung menghubungi dokter keluarganya masing-masing," ujar dr Wienke Boerma, PhD, salah seorang peneliti senior dari The Netherlands Institute for Health Services (NIVEL).
Hal tersebut ia sampaikan di sela-sela simposium Post Graduate Course in Public Health dengan tema: 'Health Care in Urban Setting', yang diadakan di Aula FK UI, Jl Salemba Raya, Jakarta Pusat, Senin (14/4/2014).
Dilanjutkan oleh dr Boerma, faktanya hanya sedikit jumlah kasus rumit yang harus dirujuk ke dokter spesialis. Sekitar 95 persen dari masalah kesehatan yang terjadi masih bisa diatasi oleh dokter keluarga. Ini berarti sebagian besar kasus kesehatan dapat ditangani di lini pertama.
"Dokter keluarga juga dididik untuk bisa mendiagnosis dan menilai apakah kasus yang terjadi urgen atau tidak. Kalau tidak urgen mereka bisa menanganinya, kalau urgen baru kemudian dirujuk ke rumah sakit atau dokter spesialis," papar dr Boerma.
Oleh sebab itu, dr Boerma memberikan dua saran untuk kemajuan JKN di Indonesia. Pertama, alangkah baiknya jika tenaga kesehatan Indonesia mendapatkan pelatihan khusus. Dengan begitu mereka akan memiliki kapasitas lebih baik. "Kedua, pasien perlu mendapatkan hak untuk memilih dokter yang benar-benar mereka percaya," tutur dr Boerma.
(ajg/vta)











































