Permen karet bukanlah makanan yang boleh ditelan, melainkan hanya untuk dikunyah. Tapi karena tidak sengaja, banyak orang yang menelan permen karet. Pada kebanyakan kasus, permen karet yang tertelan memang tidak akan membahayakan.
"Banyak orang yang menelan permen karet. Tapi komplikasi sangat jarang," jelas Dr Nitin Gupta, dokter pencernaan anak di Sydney's Children's Hospital, Randwick, seperti dikutip dari ABC, Kamis (17/4/2014).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Permen karet berbahan dasar karet ditambah bahan-bahan seperti lemak, pengemulsi, lilin, anti-oksidan, filler, pewarna, perasa, pengawet dan pemanis. Dulu permen karet terbuat dari resin pohon. Namun saat ini, bahan dasar permen karet yang paling sering digunakan adalah sintetis.
Ketika Anda mulai mengunyah permen karet, tubuh tertipu dan berpikir itu adalah makanan, sehingga mempersiapkan sistem pencernaan untuk bekerja. Kelenjar ludah dirangsang, melepaskan air liur dalam mulut, di mana enzim mulai mencerna bahan-bahan dalam permen karet, seperti gula. Tapi bahan dasar permen karet sebagian besar tidak bisa tercerna.
Mengunyah juga mempercepat peristaltik, yaitu gelombang kontraksi otot yang terkoordinasi yang menyapu makanan dari satu ujung usus ke ujung yang lain.
Jika Anda tak sengaja menelan permen karet, maka peristaltik akan mengambil alih. Permen karet yang tidak sengaja tertelan akan turun melalui kerongkongan, masuk ke dalam perut di mana ia bergolak selama beberapa jam, kemudian bergerak sepanjang usus, masuk rektum dan berakhir di toilet. Bagian ini menjadi lebih mudah karena proses cerna permen karet dibantu dengan cairan empedu, enzim pankreas dan cairan lainnya.
"Usus benar-benar tidak lengket," kata Dr Gupta.
Tetapi beberapa orang menelan banyak permen permen selama jangka waktu yang panjang. Saat itulah permen karet yang tertelan dapat terakumulasi dalam benjolan non-cerna yang disebut bezoar.
"Kalau dimulai dengan benjolan kecil dan Anda terus menelan, permen karet dapat menempel dan dapat tumbuh seperti bola salju," kata Dr Gupta.
Itulah yang terjadi pada seorang wanita Israel berusia 18 tahun yang kasusnya berakhir di jurnal Gastrointestinal Endoscopy. Dokternya menemukan bahwa di dalam perut terbentuk gumpalan besar permen karet yang tak tercerna. Dia menelan setidaknya lima buah permen karet sehari selama beberapa tahun, yang akhirnya membuat wanita itu sering mengalami sakit perut.
Sang dokter harus terlebih dahulu memecah massa, kemudian menggunakan jaring kecil untuk mengeluarkan permen karet dari dalam usus sedikit demi sedikit.
Menurut Dr Gupta, komplikasi tersebut lebih mungkin terjadi pada anak-anak. Hal ini karena anak-anak tidak mengerti bahwa mereka tidak seharusnya menelan permen karet. Anak-anak juga lebih cenderung menelan benda-benda kecil lainnya, seperti koin, yang bisa bergabung dengan permen karet membentuk bezoar yang lebih besar. Usus anak-anak pun lebih sempit dibandingkan orang dewasa, sehingga bezoar lebih mungkin terjebak.
(mer/up)











































