Kondisi ini ternyata tak bisa disepelekan begitu saja. Sebab studi baru dari AS yang menemukan hal ini bahkan mengemukakan dukungan bagi para pria ketika memasuki fase ini dirasa penting karena ini dapat mempengaruhi kesejahteraan keluarga.
"Selama ini yang kita tahu adalah maternal depression atau depresi yang terjadi pada ibu pasca lahiran. Tapi ternyata 5-10 persen ayah baru juga mengalaminya, atau biasa disebut paternal depression," tutur ketua tim peneliti, Dr Craig Garfield seperti dikutip dari Reuters, Rabu (19/4/2014).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Kemudian 3.425 partisipan dilaporkan telah menjadi ayah di akhir studi. 2.739 orang di antaranya tinggal serumah dengan anak-anaknya dan 686 orang lainnya terpaksa harus terpisah karena pekerjaan atau faktor lainnya. Sebagai perbandingan, peneliti juga mengamati kesehatan mental pria yang belum menjadi ayah.
Setiap partisipan pun diminta beberapa kali mengisi kuesioner, yaitu saat remaja, lalu ketika usianya menginjak 20-an dan 30-an. Dan hasilnya digunakan peneliti untuk mengetahui gejala depresi mereka.
Ternyata ayah yang tinggal bersama si anak memang dilaporkan mempunyai skor depresi paling rendah. Sebaliknya, ayah baru yang tidak tinggal bersama anaknya memiliki skor depresi paling tinggi, dan pria yang belum menjadi ayah memiliki skor depresi tepat berada di antara keduanya.
Namun di lima tahun pertama kehidupan si anak, ayah yang tinggal bersama mereka justru mengalami peningkatan skor depresi hingga rata-rata 68 persen.
Yang jadi permasalahan Garfield yang juga seorang dokter anak sekaligus peneliti dari Northwestern University Feinberg School of Medicine, Chicago ini menemukan depresi yang terjadi pada ayah dapat membahayakan perkembangan si anak di tahun-tahun pertama, atau masa paling kritis dalam kehidupan mereka.
"Ayah-ayah muda yang tertekan lebih cenderung malas atau enggan terlibat dalam mengurus bayinya. Bahkan mereka juga lebih sering memakai metode pengasuhan yang buruk seperti memukul pantat atau berteriak, yang pada akhirnya justru mengganggu perkembangan si anak, bahkan membahayakannya," timpal pakar lain, James Paulson dari Old Diminion University, Norfolk, Virginia.
Untuk itu, CDC pun merekomendasikan agar setiap pria dan wanita yang berencana memiliki keturunan sebaiknya menjalani skrining gangguan kesehatan mental secara rutin terlebih dulu, misalnya untuk mengecek risiko depresinya.
(lil/vit)











































